Opini

Pengucapan Syukur Minahasa, Tradisi Iman yang Menjaga Peradaban

×

Pengucapan Syukur Minahasa, Tradisi Iman yang Menjaga Peradaban

Sebarkan artikel ini
Warga Minahasa menyambut tamu dengan hidangan khas saat perayaan Pengucapan Syukur di Sulawesi Utara
Suasana hangat dan meriah di rumah warga Minahasa saat merayakan Pengucapan Syukur. Hidangan lokal tersaji, tamu disambut dengan tangan terbuka.

EKSPOSTIMES.COM- Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan sosial yang terus bergerak tanpa henti, Minahasa tetap berdiri teguh memelihara tradisinya yang sarat makna, Pengucapan Syukur.

Ini bukan sekadar pesta rakyat atau rutinitas tahunan, tetapi perwujudan iman, budaya, dan jati diri kolektif orang Minahasa yang terus bertahan lintas generasi.

Pengucapan Syukur adalah sebuah momentum spiritual dan kultural yang berasal dari semangat ucapan terima kasih kepada Tuhan atas penyertaan-Nya sepanjang musim tanam dan panen.

Dalam akar sejarahnya, perayaan ini berangkat dari kesadaran agraris masyarakat Minahasa yang menjadikan keberhasilan pertanian sebagai tanda nyata dari anugerah Ilahi.

Namun seiring waktu, maknanya berkembang lebih luas, tidak hanya panen padi atau hasil kebun, tetapi juga panen dalam bentuk kesehatan, pekerjaan, pendidikan, dan perdamaian dalam rumah tangga.

Setiap tahunnya, desa-desa di Tanah Toar Lumimuut bersolek. Rumah-rumah dibuka lebar, hidangan khas disiapkan, dan tamu-tamu dari berbagai tempat diterima tanpa batas.

Tidak ada undangan resmi, karena semua orang dianggap keluarga. Inilah nilai luhur Minahasa yang menjadi inspirasi bagi bangsa: mapalus, semangat kolektivitas dan solidaritas yang mengakar kuat.

Namun, catatan penting harus tetap digarisbawahi. Dalam euforia merayakan syukur, jangan sampai esensi justru tenggelam oleh hingar-bingar seremonial.

Pengucapan bukan panggung untuk berkompetisi pamer makanan atau kemewahan, bukan pula ajang pesta pora yang melupakan doa.

Ia adalah ruang kontemplasi, perenungan, dan perjumpaan yang harus dimaknai dalam kesederhanaan, keterbukaan, dan kerendahan hati.

Di sinilah media EKSPOSTIMES.COM hadir untuk menjaga dan mengingatkan makna sejati dari tradisi luhur ini. Sebagai penjaga narasi kebudayaan, kami percaya bahwa tradisi bukanlah beban masa lalu, melainkan akar yang meneguhkan langkah masa depan.

Pengucapan Syukur harus terus diwariskan, tidak hanya sebagai agenda tahunan, tetapi sebagai karakter hidup, bersyukur dalam segala hal.

Kami juga mengajak pemerintah, tokoh adat, gereja, dan komunitas muda untuk menjadikan Pengucapan sebagai ruang edukasi sosial dan spiritual. Libatkan generasi muda dalam menyiapkan perayaan, ajak mereka mendalami sejarahnya, dan tanamkan bahwa bersyukur bukan sekadar ucapan, tapi juga tindakan nyata, saling menghargai, membantu sesama, menjaga lingkungan, dan hidup jujur.

Akhir kata, kepada seluruh masyarakat Minahasa, di manapun berada, Redaksi EKSPOSTIMES.COM mengucapkan selamat merayakan Pengucapan Syukur.

Mari kita syukuri kehidupan ini bukan hanya lewat kata, tetapi lewat sikap hidup yang memuliakan Tuhan dan sesama. Sebab dalam syukur yang tulus, peradaban besar dimulai.

Torang samua basudara. Tuhan memberkati Minahasa!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d