Renungan

Antara Kesetiaan dan Kompromi: Siapa yang Kita Sembah? (Keluaran 34:14–15)

×

Antara Kesetiaan dan Kompromi: Siapa yang Kita Sembah? (Keluaran 34:14–15)

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi tangan terangkat ke langit di hadapan gunung dengan cahaya ilahi, menggambarkan kesetiaan kepada Tuhan yang cemburu.
Keluaran 34:14–15, menggambarkan panggilan Allah untuk tidak berkompromi dengan ilah lain dan setia hanya kepada-Nya.

EKSPOSTIMES.COM- Di balik langit yang membentang luas dan gunung-gunung yang menjulang kokoh, terdengar suara Tuhan yang membelah sunyi: “Janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain.” (Ayat 14).

Kata-kata ini tidak datang dengan suara lembut, melainkan dengan api yang menyala di atas Gunung Sinai, dengan guntur yang mengguncang hati dan peringatan yang tak bisa diabaikan.

Tuhan menyebut diri-Nya Cemburuan. Kata itu menyentak. Bukankah cemburu itu milik manusia? Tapi justru di sinilah kita melihat kedalaman kasih-Nya.

Baca Juga:bPenyertaan Tuhan Tidak Selalu Nyaman, Tapi Selalu Tepat (Keluaran 13:21-22)

Ia bukan Tuhan yang acuh. Ia bukan Pencipta yang menciptakan lalu pergi. Ia adalah Kekasih Ilahi yang merindukan umat-Nya dengan gairah yang menyala. Cinta-Nya bukan cinta yang dingin melainkan api yang melahap segala bentuk perselingkuhan rohani.

Betapa sering kita menyepelekan kecemburuan Allah. Kita pikir, selama kita ke gereja, menyanyikan lagu rohani, memberi persembahan, semuanya baik-baik saja. Padahal hati kita telah duduk di meja-meja asing.

Kita menerima undangan dunia tanpa berpikir dua kali. Kita menyantap nilai-nilai mereka, meneguk cita-cita mereka, bahkan menikmati korban sembelihan dari allah-allah modern. Popularitas, uang, kekuasaan, kenyamanan.

Tuhan memperingatkan Israel dengan bahasa pernikahan “jangan berzinah dengan mengikuti allah mereka” (Ayat 15), Ini bukan sekadar penyembahan patung, ini soal kesetiaan.

Tuhan tidak mencari pengikut yang setengah hati. Ia menginginkan mempelai yang utuh, tidak terbagi. Sebab Ia telah memberikan diri-Nya seutuhnya di setiap perjanjian yang ditegakkan-Nya.

Renungan ini menggugah kita untuk bertanya meja siapa yang sedang kita duduki? Kepada siapa kita mencondongkan hati saat tak ada yang melihat? Dengan siapa kita diam-diam membuat perjanjian jiwa perjanjian diam antara nurani dan dunia, kompromi kecil yang lama-lama menjadi ikatan yang membelenggu?

Baca Juga; Jalan Buntu Itu Buatan Tuhan: Saat Ketakutan Menjadi Panggung Mujizat (Keluaran 14:1–14)

Tuhan bukan hanya cemburu karena Ia ingin dipuja, Ia cemburu karena Ia tahu bahwa menyembah allah lain membawa kehancuran. Makan dari meja asing tampak menggoda, tetapi akhirnya meracuni jiwa. Tuhan ingin melindungi kita dari undangan maut itu.

Hari ini, suara-Nya masih sama, jangan bersujud kepada allah lain. Jangan menukar kasih setia Tuhan dengan pelukan dingin dari dunia yang hanya mencintai ketika kita berguna.

Tuhan sedang memanggil kita kembali. Bukan dengan cambuk, tetapi dengan hati yang luka karena ditinggalkan. Ia adalah Allah yang cemburu karena Ia adalah Allah yang mengasihi. Dan Ia rindu umat-Nya pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d