Renungan

Bezaleel dan Aholiab: Ketika Keahlian Dipakai untuk Kemuliaan Tuhan (Keluaran 36:1–7)

×

Bezaleel dan Aholiab: Ketika Keahlian Dipakai untuk Kemuliaan Tuhan (Keluaran 36:1–7)

Sebarkan artikel ini
Dua pria Israel bekerja membuat perabot suci, dikelilingi bahan-bahan persembahan seperti emas, kain lenan, dan kayu penaga di tengah padang gurun.
Bezaleel dan Aholiab dipenuhi keahlian dari Tuhan untuk membangun Kemah Suci dengan bahan persembahan umat yang melimpah di padang gurun.

EKSPOSTIMES.COM-  Di tengah padang gurun yang panas dan kering, Allah memerintahkan Musa untuk membangun sesuatu yang agung: Kemah Suci, tempat hadirat-Nya tinggal di tengah umat. Sebuah tempat yang kudus, yang bukan hanya dibangun dengan tangan, tetapi dengan hati yang digerakkan oleh kasih.

Tapi apa yang terjadi sungguh mencengangkan.  Bangsa Israel, yang dulunya budak, yang baru saja diselamatkan dari Mesir, kini berdiri sebagai penyumbang dan pekerja bagi rumah Allah.

Mereka tidak lagi bersandar pada keluhan dan trauma masa lalu. Mereka bangkit sebagai umat yang memberi bukan dengan paksa, tapi dengan sukarela.

Baca Juga: Renungan: Satu Hari untuk Tuhan, Tanda bahwa Kita Milik-Nya, Kejadian 31:12-17

Tiap pagi, mereka datang membawa persembahan. Hari demi hari, pemberian itu mengalir, mengalir, dan terus mengalir sampai Musa sendiri harus berkata, “Cukup! Jangan bawa lagi! Terlalu banyak!”

Inilah salah satu gambaran paling indah tentang ketaatan dan kemurahan hati dalam seluruh Alkitab. Rakyat membawa lebih banyak dari yang diperlukan. Mereka memberi bukan karena disuruh, tetapi karena hati mereka tergerak. Mereka bekerja bukan demi upah, tapi demi Allah.

Dan perhatikan siapa yang dipakai Tuhan: Bezaleel, Aholiab, dan orang-orang yang “di dalam hatinya telah ditanam TUHAN keahlian.” Ini bukan sekadar soal kemampuan teknis, tapi soal kerelaan. Mereka bukan hanya pintar mereka bersedia. Mereka tahu untuk siapa mereka bekerja.

Betapa kontrasnya dengan realitas kita hari ini. Kita seringkali memberi seadanya. Kita melayani kalau sempat. Kita menunggu disuruh, diminta, bahkan diingatkan berkali-kali.

Baca Juga: Renungan: Mewariskan Janji, Bukan Sekadar Harta, Bacaan Firman Kejadian 47:27, 48:22

Tapi di sini, kita melihat kebangkitan spiritual yang nyata: sebuah bangsa yang baru saja belajar siapa Tuhan itu, kini berbondong-bondong mempersembahkan milik mereka kepada-Nya, hingga melimpah.

Inilah dampak dari hati yang disentuh Allah. Ketika Tuhan menanamkan sesuatu di dalam hati seseorang, itu akan terlihat. Akan ada kerinduan untuk memberi, membangun, dan melayani. Tanpa keluhan. Tanpa hitung-hitungan. Bukan karena wajib, tapi karena cinta.

Kemurahan hati bangsa Israel di padang gurun menjadi teguran sekaligus inspirasi bagi kita. Di tengah dunia yang mengajarkan untuk menahan, menyimpan, dan memikirkan diri sendiri lebih dulu, Firman Tuhan mengingatkan: orang yang hatinya disentuh Tuhan akan memberi dan bahkan tak sadar bahwa dia sudah memberi terlalu banyak.

Bezaleel dan Aholiab tidak membangun istana untuk diri mereka sendiri. Mereka membangun Kemah Suci. Dan orang-orang di sekitar mereka mendukung dengan sepenuh hati, dengan emas, kain lenan, rempah, dan waktu mereka.

Hari ini, kita tidak diminta membawa emas atau kulit kambing ungu. Tapi Tuhan tetap memanggil kita untuk memberi melalui talenta, waktu, dan kasih yang kita miliki. Pertanyaannya: apakah hati kita masih mudah tersentuh? Ataukah sudah terlalu keras untuk digerakkan?

Karena ketika hati tergerak, hasilnya bukan hanya cukup. Tapi berlebih. (Rizky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d