Renungan

Mengejar Hadirat-Nya, Bukan Sekadar Berkat-Nya (Keluaran 33:1–6)

×

Mengejar Hadirat-Nya, Bukan Sekadar Berkat-Nya (Keluaran 33:1–6)

Sebarkan artikel ini
Seorang jemaat berlutut dalam doa, menyembah Tuhan dengan tulus di ruang ibadah yang tenang
Renungan: Mengejar hadirat Tuhan lebih penting dari mengejar berkat-Nya. Sebab di hadirat-Nya ada damai, kekuatan, dan pemulihan sejati.

EKSPOSTIMES.COM- Ada masa dalam perjalanan iman kita ketika janji Tuhan tetap berlaku, tetapi hadirat-Nya terasa menjauh. Inilah yang dialami bangsa Israel dalam Keluaran 33:1–6.

Mereka masih dijanjikan negeri berlimpah susu dan madu, malaikat Tuhan tetap akan berjalan di depan mereka, bahkan musuh-musuh akan dikalahkan.Namun, ada satu hal yang hilang, Tuhan sendiri menyatakan “Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu.”

Baca Juga: Renungan: Rencana Allah dalam Kesulitan Hidup, Kejadian 37:1-11

Ini bukan sekadar ancaman, tapi pengungkapan kebenaran yang mengerikan bahwa bangsa Israel telah begitu keras kepala dan tegar tengkuk, sehingga kehadiran Tuhan justru bisa menjadi penghancur mereka.

Renungan ini menampar kita secara rohani. Bisa saja hidup kita terlihat “diberkati” proyek berjalan, keluarga sehat, pelayanan aktif tetapi bagaimana jika Tuhan tidak ada di tengah-tengah kita?

Bangsa Israel merespons dengan berkabung. Mereka melepaskan perhiasan, simbol kesombongan dan kenikmatan duniawi, sebagai tanda tobat dan kerendahan hati.

Mereka menyadari, lebih baik tidak memiliki negeri perjanjian, daripada berjalan tanpa hadirat Allah.

Inilah inti renungan hari ini, apakah kita lebih menginginkan berkat Tuhan daripada Tuhan itu sendiri? Apakah kita nyaman melanjutkan hidup religius, pelayanan, atau bahkan pencapaian rohani, tanpa pernah benar-benar menyadari bahwa Tuhan mungkin tidak berjalan bersama kita?

Keluaran 33 mengajak kita untuk melihat ulang isi hati. Apakah kita ini juga bangsa yang “tegar tengkuk”?

Adakah kesombongan rohani, kebiasaan berdosa, atau sikap pemberontakan halus yang membuat Tuhan terpaksa menjaga jarak?

Baca Juga: Renungan: Jalan Tuhan yang Tak Terselami Tapi Sempurna, Kejadian 37:12-36

Jika ya, maka seperti Israel, kita pun perlu menanggalkan “perhiasan” kita, segala sesuatu yang menutupi wajah kita di hadapan Tuhan dan kembali merendahkan diri.

Karena yang terpenting dalam perjalanan iman bukanlah tanah perjanjian, melainkan penyertaan Allah. Sebab tanpa-Nya, segala berkat tidak ada artinya. Lebih baik berjalan di padang gurun bersama Tuhan, daripada berada di negeri berlimpah susu dan madu tanpa-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d