Renungan

Kembali ke Meja Kerja, Tapi Hati Tetap di Altar (Keluaran 35:1-5)

×

Kembali ke Meja Kerja, Tapi Hati Tetap di Altar (Keluaran 35:1-5)

Sebarkan artikel ini

EKSPOSTIMES.COM- Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada perhentian kudus bagimu…” (Keluaran 35:2a)

Di tengah dunia yang terus bergerak, diam sejenak bisa terasa seperti kesalahan. Kita hidup dalam budaya yang mengagungkan produktivitas. Pekerjaan bukan lagi sekadar tanggung jawab, melainkan identitas.

Kita mengukur nilai diri dari berapa jam yang kita habiskan di meja kerja, berapa proyek yang kita selesaikan, berapa rupiah yang kita hasilkan. Tanpa sadar, kita telah menukar altar Tuhan dengan meja kerja.

Baca Juga: Antara Kesetiaan dan Kompromi: Siapa yang Kita Sembah? (Keluaran 34:14–15)

Namun firman Tuhan dalam Keluaran 35 datang bagai dentuman keras ke hati kita: “Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada perhentian kudus bagi TUHAN…” Itu bukan sekadar anjuran. Itu perintah. Tegas. Tidak bisa dinegosiasi.

Bahkan Tuhan menambahkan satu detail yang terasa mengerikan: “Setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, haruslah dihukum mati.” (Ayat 2)

Mengapa begitu ekstrem? Karena bagi Tuhan, ketidaktaatan pada Sabat adalah tanda bahwa kita menolak bergantung kepada-Nya.

Baca Juga: Mengejar Hadirat-Nya, Bukan Sekadar Berkat-Nya (Keluaran 33:1–6)

Kita memilih percaya pada hasil kerja kita, bukan pada pemeliharaan-Nya. Kita bekerja seakan dunia bergantung pada kita dan bukan pada Allah yang Mahakuasa.

Perintah untuk berhenti bekerja bukan soal kemalasan. Ini tentang penundukan hati. Sabat bukan hari untuk sekadar tidur lebih lama atau berjalan santai di taman.

Itu hari untuk mengingat siapa yang empunya hidup. Itu hari untuk mengingat bahwa dunia ini bukan milik kita, dan hasil kerja kita tak pernah menjamin masa depan. Hanya Tuhan yang memegang semuanya.

“Janganlah kamu memasang api di mana pun dalam tempat kediamanmu pada hari Sabat,” demikian firman-Nya. Itu bukan hanya larangan fisik. Itu simbol: jangan nyalakan kembali semangat ambisi, ego, dan kesibukan yang membakar hari-harimu. Biarkan api itu padam sejenak, agar nyala kasih Tuhan bisa membakar kembali jiwamu.

Mungkin hari-hari ini kita terlalu lelah. Terlalu letih mengejar sesuatu yang tak pernah cukup. Gaji tak pernah cukup. Pujian tak pernah cukup. Pekerjaan selalu ada. Tapi Sabat mengingatkan kita bahwa yang cukup itu bukan gaji, bukan target tetapi Tuhan sendiri.

Berhentilah. Masuklah dalam Sabat. Biarkan pekerjaanmu mengingatkan siapa engkau seorang manusia yang butuh istirahat, dan lebih dari itu, seorang ciptaan yang butuh Sang Pencipta.

Jika Tuhan sendiri beristirahat pada hari ketujuh, siapa kita hingga merasa harus bekerja tanpa henti?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d