EKSPOSTIMES.COM- Langit Sinai masih menyala oleh kemuliaan Tuhan. Di atas gunung, Musa tenggelam dalam percakapan ilahi, menerima loh batu dari jari Allah sendiri. Tapi di bawah sana, di kaki gunung, suara yang lain mulai menggema. Suara pemberontakan. Suara keraguan. Suara hati yang gelisah karena merasa ditinggalkan.
“Musa menghilang. Kita tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Mari, buatkan allah bagi kita!” (Ayat 1)
Baca Juga: Renungan: Bertobat dan Berubah Sekarang Bukan Nanti, Roma 12:2
Begitulah manusia, ketika penantian menjadi terlalu panjang, ketika iman diuji oleh waktu, kita mulai menggali lubang-lubang pelarian. Kita mencari tuhan-tuhan baru yang bisa kita lihat, kita sentuh, dan kita bentuk sesuai keinginan.
Harun, sang imam, menyerah. Ia memerintahkan mereka menanggalkan anting-anting emas, perhiasan yang dulunya simbol penebusan dari Mesir, kini menjadi bahan baku pengkhianatan. Maka terciptalah anak lembu tuangan. Bukan hanya sebuah patung, tapi simbol penggantian Allah sejati dengan keinginan manusia.
“Hai Israel, inilah Allahmu…”
Kata-kata itu mengguncang surga. (Ayat 4)
Di atas gunung, Allah yang cemburu melihat semuanya. Ia bukan Allah yang tak tahu. Ia tahu. Ia melihat setiap langkah penyimpangan. Dan murka-Nya pun menyala.
“Biarkan Aku membinasakan mereka…” (Ayat 10)
Sungguh, itu bukan amarah biasa. Itu adalah jerit hati Ilahi yang dikhianati oleh umat yang ditebus-Nya sendiri. Bagaimana tidak? Dengan tangan-Nya, Ia membelah laut. Dengan kasih-Nya, Ia memberi manna. Tapi sekarang, mereka menari di sekeliling patung, menyebutnya TUHAN.
Tapi tepat di tengah amarah itu, Musa berdiri. Seorang manusia berdiri di antara murka Allah dan kehancuran umat. Ia tidak menyalahkan umatnya, juga tidak menyalahkan Tuhan. Ia berseru, bukan dengan dalih, tetapi dengan pengingat:
“Ingatlah janji-Mu. Jangan biarkan Mesir mencemooh nama-Mu. Lihatlah kasih-Mu, ya Tuhan.”
Dan… terjadilah sesuatu yang luar biasa:
“Dan menyesallah TUHAN…”
Bukan karena Ia keliru. Tapi karena belas kasih-Nya lebih besar dari keadilan-Nya. Karena dalam rencana Allah, kasih selalu menang atas murka.
Renungan ini mengetuk kita hari ini. Siapa Harun dalam hidup kita? Siapa yang kita dengar saat kita merasa Tuhan “terlalu lama”? Apa emas yang kita serahkan untuk membentuk anak lembu kita sendiri?
Mungkin bukan patung. Tapi bisa jadi itu ambisi. Cinta yang salah. Karier yang jadi berhala. Popularitas. Kekuatan. Semua itu bisa jadi lembu emas,.ketika kita memberi pada mereka tempat yang hanya milik Tuhan.
Baca Juga: Renungan: Allah yang Membalikkan Luka Menjadi Kehidupan, Kejadian 45:5
Tapi, seperti Musa, kita juga bisa memilih berdiri di celah. Untuk memohon pengampunan. Untuk berseru di tengah kegagalan. Untuk percaya bahwa Tuhan masih bisa “menyesal” dalam arti, memilih kasih daripada murka.
Hari ini, hancurkan anak lembu itu. Dan kembali sujud pada Tuhan yang benar.
Sebab hanya Dia yang setia, bahkan saat kita tidak setia.










