Renungan

Tuhan atau Anak Lembu Emas, Pilihan yang Mengubah Sejarah (Keluaran 32:25-35)

×

Tuhan atau Anak Lembu Emas, Pilihan yang Mengubah Sejarah (Keluaran 32:25-35)

Sebarkan artikel ini
Musa berdiri di depan bangsa Israel yang menyembah anak lembu emas di kaki Gunung Sinai
Ilustrasi Musa memanggil orang-orang yang berpihak kepada Tuhan, sementara umat Israel menyembah patung anak lembu emas, simbol pengkhianatan di kaki Gunung Sinai.

EKSPOSTIMES.COM- Bayangkan sebuah bangsa yang baru saja diselamatkan dari perbudakan. Dengan tangan-Nya yang kuat, Tuhan membelah laut, memberi manna dari langit, dan berbicara langsung dari gunung dengan api dan gemuruh.

Namun hanya beberapa saat setelah Musa naik ke gunung Sinai untuk menerima hukum Tuhan, bangsa itu, umat pilihan-Nya sendiri jatuh ke dalam kegilaan.

Mereka menari di sekeliling anak lembu emas. Tak ada lagi batas moral. Tak ada lagi rasa takut akan Tuhan. Mereka seperti kuda liar yang terlepas dari kendali, seperti kawanan yang menari di ambang jurang kehancuran.

Baca Juga: Renungan: Kemuliaan di Puncak, Pengkhianatan di Lembah (Keluaran 32:1–14)

Bahkan Harun, imam besar mereka, justru menjadi dalang kekacauan ini. Ketika Musa turun dari gunung, bukan hanya dua loh batu yang pecah hatinya pun seakan remuk.

Di tengah kekacauan itu, Musa berdiri tegak di pintu gerbang perkemahan dan berseru “Siapa yang memihak kepada TUHAN, datanglah kepadaku!”

Itu bukan panggilan biasa. Itu bukan undangan untuk berkumpul dan merenung. Itu adalah pemisahan. Panggilan untuk memilih Tuhan atau berhala. Hidup atau mati. Dan hanya suku Lewi yang melangkah maju, memihak kepada Tuhan tanpa ragu.

Apa yang terjadi selanjutnya mungkin membuat kita bergidik.Mereka diperintahkan untuk menghunus pedang mereka sendiri bukan melawan musuh asing, tapi melawan saudara, sahabat, bahkan tetangga mereka sendiri.

Tiga ribu nyawa melayang hari itu. Bukan karena Tuhan haus darah, tetapi karena kekudusan-Nya tak bisa dinegosiasi. Dosa yang disengaja, yang dibiarkan, akan menghancurkan seluruh bangsa. Dan untuk menghapuskan kebusukan itu, harus ada pengorbanan yang nyata.

Namun, drama terbesar bukan terletak pada darah yang tertumpah, tetapi pada hati Musa. Setelah semuanya terjadi, ia kembali naik menghadap Tuhan. Dalam derita jiwa yang dalam, ia berkata:

“Kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.”

Inilah gambaran dari pemimpin sejati, seorang yang rela menukar keselamatan pribadinya demi umat yang ia kasihi. Musa menjadi bayang-bayang dari Yesus Kristus, Sang Pengantara yang sempurna.

Tetapi Tuhan menegaskan prinsip kekal “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.”

Dosa bukan sekadar kesalahan. Dosa adalah pemberontakan. Dan hari pembalasan akan datang. Namun masih ada kasih karunia. Tuhan tidak membinasakan semuanya. Ia masih menyuruh Musa menuntun bangsa itu. Ia masih menyertakan malaikat-Nya. Tapi luka itu tertinggal, dan hukuman itu datang.

Saudaraku, Tuhan sedang mencari orang-orang yang berpihak penuh kepada-Nya. Bukan setengah hati. Bukan hanya di mulut. Tapi dengan kehidupan yang total.

Baca Juga: Biarkan Tuhan Diam di Tengah Hidupmu, Bangunlah Tempat Kudus Itu dari Hati, Keluaran 25:2-9

Hari ini, di tengah dunia yang semakin liar dan mengabaikan kekudusan Tuhan, pertanyaannya sama “Siapa yang memihak kepada TUHAN? Datanglah kepada-Nya!”

Dan saat kita datang, bukan dengan pedang di tangan, tapi dengan hati yang bertobat, Tuhan sanggup memulihkan, mengampuni, dan menuntun kita ke Tanah Perjanjian yang dijanjikan-Nya.

Jangan menari di sekeliling lembu emas ketika Tuhan sedang memanggilmu ke gunung kekudusan-Nya. Pilih Tuhan hari ini, sekarang juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d