EKSPOSTIMES.COM- Di kaki Gunung Sinai, bangsa Israel berdiri, menatap puncak yang diselubungi awan pekat. Kemuliaan TUHAN tampak dari kejauhan seperti api yang menghanguskan, membara, menggetarkan. Namun Musa dipanggil untuk naik. Ia meninggalkan kerumunan, mendaki sendirian, menembus awan tebal menuju kehadiran Allah yang agung dan dahsyat.
Inilah saat suci yang penuh ketegangan dan misteri. Allah tidak memanggil Musa hanya untuk sekadar bertemu, tetapi untuk menerima hukum yang akan menjadi fondasi kehidupan bangsa Israel.
Baca Juga: Viral Tapi Salah: Bahaya Menyebar Kabar Bohong (Keluaran 23:1)
Namun, ada satu hal yang sangat mencolok dalam kisah ini yaitu Musa tidak langsung bertemu Allah. Ia harus menunggu selama enam hari dalam kabut awan, baru pada hari ketujuh Allah memanggilnya dari tengah-tengah awan itu.
Musa sudah menaati perintah untuk naik gunung, ia sudah meninggalkan zona nyamannya, meninggalkan rakyat, menanggalkan hiruk-pikuk dunia di bawah. Namun setelah sampai di sana, ia harus menunggu. Enam hari dalam ketidakpastian. Enam hari dalam diam, tanpa penjelasan. Enam hari terbungkus awan.
Bukankah itu juga gambaran hidup kita? Kita merasa telah melangkah dalam ketaatan, kita telah berkorban, meninggalkan banyak hal demi Tuhan namun justru saat itu, seolah kita masuk ke dalam awan. Segalanya menjadi tidak jelas, suara Tuhan tak terdengar, dan kita hanya menatap kekaburan.
Terkadang, kemuliaan-Nya justru tidak terlihat seperti cahaya terang, tetapi seperti awan yang menyelimuti dan membuat segala sesuatu tampak gelap. Kita berharap Tuhan berbicara dalam terang, tetapi Ia memilih membungkus kita dalam diam. Bukan karena Ia tidak peduli, tetapi karena di situlah kita diajar untuk bertahan dalam iman.
Pada hari ketujuh, Allah memanggil. Musa melangkah masuk ke dalam awan itu ke tempat di mana orang lain hanya melihat bahaya. Bangsa Israel melihat puncak Sinai sebagai api yang menghanguskan. Tetapi Musa tahu, di balik kedahsyatan itu ada hadirat Tuhan yang kudus.
Demikian pula dalam hidup kita. Ketika orang lain melihat penderitaan sebagai kutukan, kita belajar melihatnya sebagai tempat perjumpaan.
Ketika awan kehidupan menyelimuti kita kegagalan, kesepian, kehilangan Tuhan justru hadir di sana. Ia tidak selalu menyatakan diri dalam kilau kemuliaan, tetapi dalam proses menanti yang membentuk.
Ia tidak hanya menerima dua loh batu, tetapi menerima isi hati Allah. Ia menjadi pembawa firman, pemimpin yang diubah oleh hadirat. Tidak semua orang dapat masuk ke dalam awan itu hanya mereka yang bersedia naik, menanti, dan tetap percaya.
Baca Juga: Tuhan Mendengar Jerit Orang Miskin, Apakah Kita Mendengarnya? (Keluaran 22:21–27)
Hari ini, jika engkau berada dalam awan jangan buru-buru turun. Jangan menduga bahwa Tuhan telah pergi. Bisa jadi, Ia sedang memanggilmu lebih dekat, lebih dalam. Tunggulah. Percayalah. Karena di balik kabut yang membingungkan itu, kemuliaan Tuhan sedang membentuk dirimu menjadi pribadi yang dipakai untuk tujuan kekal.
Awan mungkin mengaburkan pandanganmu, tapi tidak mengaburkan pandangan Tuhan atasmu. Naiklah ke gunung itu. Tinggallah dalam hadirat-Nya. Karena dari tempat yang tersembunyi itulah, hidupmu akan dibentuk menjadi suara kebenaran bagi banyak orang. (*/rizkypurukan)










