EKSPOSTIMES.COM- Dalam perjalanan panjang bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan Mesir menuju tanah perjanjian, mereka mengalami banyak tantangan. Salah satu yang paling mencolok adalah keluhan mereka tentang kebutuhan jasmani, termasuk kelaparan dan kehausan.
Keluaran 17:2 mencatat sebuah momen penting: “Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: ‘Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.’ Tetapi Musa berkata kepada mereka: ‘Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?’”
Ayat ini berbicara lebih dari sekadar permintaan air. Ini tentang sikap hati dalam menghadapi kekeringan hidup. Israel telah melihat mujizat demi mujizat—mereka dibebaskan dari Mesir dengan kuasa Tuhan yang luar biasa, laut terbelah di depan mata mereka, dan mereka disertai tiang awan dan tiang api.
Baca Juga: Lebih Pilih Roti di Penjara daripada Janji di Padang Gurun? (Keluaran 16:1-36)
Tetapi ketika menghadapi situasi tanpa air, respons mereka adalah bertengkar dan bersungut-sungut. Bukan karena mereka tidak punya alasan untuk haus, tapi karena mereka gagal mempercayai karakter Tuhan yang setia.
Kekeringan, secara rohani maupun jasmani, adalah ujian. Dalam masa kekeringan, hati manusia diuji: apakah kita akan tetap mempercayai Tuhan, ataukah kita akan menyalahkan-Nya? Bangsa Israel memilih untuk mengeluh dan mencobai Tuhan. Mereka menuntut bukti bahwa Tuhan masih menyertai mereka, seolah-olah mujizat sebelumnya tidak cukup.
Sikap mencobai Tuhan di sini bukan hanya soal mengeluh, tetapi soal meragukan karakter-Nya. Mereka mempertanyakan apakah Tuhan benar-benar hadir. Mereka berkata (ayat 7), “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Inilah esensi dari mencobai Tuhan: menuntut tanda untuk percaya, alih-alih percaya karena mengenal-Nya.
Dalam kehidupan modern, kita pun sering bertindak serupa. Ketika doa tidak langsung dijawab, ketika usaha gagal, ketika tubuh lelah dan jiwa kering, kita mulai bertanya, “Tuhan, Engkau di mana?” Kita mulai menggugat, seolah-olah Tuhan harus membuktikan kasih-Nya setiap hari. Kita lupa bahwa iman bukan dibangun atas dasar kenyamanan, tetapi atas pengenalan akan siapa Tuhan itu.
Musa, dalam ayat ini, menunjukkan bahwa masalah mereka bukanlah kekurangan air, tapi kekeliruan sikap hati. Pertengkaran dengan Musa hanyalah cerminan dari pertengkaran mereka dengan Tuhan. Dan Musa mengarahkan mereka kembali: “Mengapakah kamu mencobai TUHAN?”
Yang luar biasa dari kisah ini adalah bahwa meskipun sikap bangsa Israel salah, Tuhan tetap memberikan air kepada mereka. Musa diperintahkan memukul batu, dan dari batu itu keluar air yang mencukupi seluruh umat. Ini menunjukkan bahwa kasih karunia Tuhan tidak bergantung pada layaknya manusia. Ia tetap setia sekalipun umat-Nya tidak setia.
Namun, kebaikan Tuhan tidak boleh disalahartikan sebagai persetujuan terhadap ketidakpercayaan. Kisah ini justru menjadi peringatan agar kita tidak terus hidup dalam pola yang sama—meragukan dan mencobai Tuhan setiap kali keadaan tidak nyaman.
Dalam masa kekeringan hidup—baik keuangan, kesehatan, relasi, atau rohani—iman kita ditantang untuk percaya kepada Tuhan yang tak terlihat, namun nyata. Seperti Israel, kita bisa memilih dua jalan: mengeluh dan menggugat, atau mempercayai dan menanti. Yang pertama membawa kita pada kepahitan; yang kedua membawa kita pada kedewasaan.
Baca Juga: Lebih Baik Lapar di Padang Gurun daripada Kenyang di Mesir (Keluaran 16:2-3)
Mari belajar dari kesalahan bangsa Israel. Jangan menunggu air keluar dari batu baru kita percaya bahwa Tuhan menyertai. Percayalah terlebih dahulu bahwa Tuhan itu setia, dan air itu akan datang dalam waktu-Nya. Tuhan tidak pernah gagal memelihara umat-Nya. Yang Ia minta adalah hati yang percaya, bahkan di tengah kekeringan.
Keluaran 17:2 bukan hanya tentang sejarah perjalanan bangsa Israel, tetapi tentang perjalanan iman setiap orang percaya. Jangan mencobai Tuhan dengan keraguan yang berulang. Latihlah hati untuk percaya meski belum melihat. Karena dalam kekeringan pun, Tuhan tetap setia. (*/rizkypurukan)













