Ekonomi & Bisnis

IHSG Anjlok di Tengah Memanasnya Perang Dagang AS-China, Investor Asing Terus Jual Saham

×

IHSG Anjlok di Tengah Memanasnya Perang Dagang AS-China, Investor Asing Terus Jual Saham

Sebarkan artikel ini
Tampilan papan elektronik Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG merah di tengah ketegangan perang dagang global.
Foto Ilustrasi IHSG Terjun Bebas Akibat Perang Dagang AS-China, Investor Asing Ramai-Ramai Jual Saham

EKSPOSTIMES.COM- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terseret ke zona merah pada awal perdagangan Jumat (11/4), di tengah tensi geopolitik yang kian memanas antara Amerika Serikat dan China. Dibuka pukul 09.01 WIB, IHSG langsung melorot 58,45 poin atau 0,9% ke level 6.195, memperpanjang tren negatif pasar saham domestik dalam beberapa pekan terakhir.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), aktivitas perdagangan pagi ini mencatat volume sebesar 1,6 miliar saham dengan nilai transaksi menembus Rp1,5 triliun. Dari total 108 ribu kali transaksi, 164 saham terpantau menguat, 224 melemah, dan 195 stagnan.

Pelemahan IHSG hari ini tidak berdiri sendiri. Riset terbaru BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan bahwa indeks tengah berada dalam pola downtrend channel, dengan potensi konsolidasi di level support 6.096 dan resistance di kisaran 6.421. Untuk perdagangan jangka pendek, saham seperti SSMS, BRMS, dan EMTK masih direkomendasikan sebagai pilihan menarik.

Baca Juga: IHSG Melejit 5 Persen Usai Trump Tunda Tarif Dagang, Pasar Global Meroket, Big Caps Jadi Motor Penggerak

Hal senada juga diungkapkan Panin Sekuritas. Mereka menyoroti tensi dagang AS-China yang kembali berkobar usai Washington menerapkan tarif impor hingga 145% untuk produk asal China. Langkah ini dinilai berisiko menekan ekspor global, memperlemah Rupiah, dan memicu lonjakan yield obligasi internasional.

“Ketidakpastian ini bisa memperburuk neraca perdagangan Indonesia serta meningkatkan tekanan terhadap pasar saham,” tulis Panin Sekuritas dalam analisanya.

Salah satu faktor kunci yang terus membebani IHSG adalah aksi jual investor asing. Sejak awal 2025, net sell asing telah mencapai Rp29,92 triliun, Rp8,02 triliun di antaranya terjadi hanya dalam bulan Maret.

Phintraco Sekuritas menyoroti bahwa perang dagang kali ini lebih agresif dibanding Trade War 1.0. Minimnya sinyal dialog dari Beijing dan ketidakjelasan arah kebijakan ekonomi AS menambah ketidakpastian di pasar. Saham defensif seperti TLKM, UNVR, SCMA, JPFA, dan KLBF dinilai lebih aman dalam kondisi ini.

CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan potensi koreksi lanjutan masih tinggi menjelang akhir pekan. IHSG diproyeksikan bergerak dalam rentang support 6.147–5.967 dan resistance 6.381–6.500.

Secara year to date (ytd), IHSG sudah terkoreksi hingga 11,67% per 10 April 2025. Bahkan, sempat terjadi trading halt pada 8 April lalu ketika IHSG anjlok tajam ke 5.996, mencatat penurunan harian 7,9% pasca libur Lebaran.

Anggota Dewan Komisioner OJK, Inarno Djajadi, menyampaikan bahwa otoritas pasar telah mengaktifkan berbagai kebijakan untuk meredam gejolak, termasuk relaksasi aturan buyback saham dan penyesuaian sistem trading halt serta auto-rejection asymmetry. Hingga 9 April, 21 emiten telah mengumumkan buyback senilai total Rp14,97 triliun, di mana Rp429,72 miliar telah terealisasi.

Meskipun sempat rebound 4,79% pada 10 April, pelaku pasar tetap dihadapkan pada risiko tinggi. Ketidakpastian global, tekanan asing, serta potensi pelemahan lanjutan menjadi sinyal bahwa investor harus semakin selektif dan defensif dalam memilih instrumen.

Pantau terus perkembangan pasar dan strategi dari analis terpercaya untuk menjaga portofolio tetap aman di tengah turbulensi global. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *