EKSPOSTIMES.COM- Setelah berada dalam tekanan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya mencatatkan penguatan signifikan sebesar 1,42 persen, atau naik 88,27 poin ke level 6.311,66 pada penutupan perdagangan hari ini.
Meski berhasil kembali ke zona hijau, ketidakpastian masih menyelimuti pasar, dengan berbagai sentimen global dan domestik yang terus menguji daya tahan indeks.
Salah satu faktor yang mendorong reli IHSG hari ini adalah kepastian bahwa Sri Mulyani tetap menjabat sebagai Menteri Keuangan. Keberlanjutannya di posisi strategis ini dianggap sebagai jaminan bagi stabilitas kebijakan fiskal, yang memberikan kepercayaan bagi investor bahwa ekonomi Indonesia akan tetap dalam jalur yang terkendali.
Baca juga: IHSG Anjlok 5 Persen, BEI Berlakukan Trading Halt, Sri Mulyani Yakinkan Pasar Tetap Stabil
Meskipun mengalami kenaikan, IHSG masih dibayangi oleh sentimen eksternal yang kurang kondusif:
1. Kebijakan Proteksionis Donald Trump
Presiden AS Donald Trump kembali mengguncang pasar dengan rencana pengetatan tarif terhadap Tiongkok, yang berpotensi memperburuk hubungan dagang kedua negara. Jika ketegangan ini meningkat, dampaknya bisa merembet ke ekonomi global, termasuk Indonesia.
2. Inflasi AS Melonjak, The Fed Bersiap Bertindak
Inflasi yang melebihi ekspektasi di AS memicu spekulasi bahwa The Fed akan kembali mengetatkan kebijakan moneter. Jika suku bunga naik, arus modal berpotensi keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga bisa kembali menekan IHSG.
3. Bayang-Bayang Resesi Global
Perlambatan ekonomi di negara-negara maju semakin memperkuat kekhawatiran akan potensi resesi global. Investor masih menunggu kepastian apakah ekonomi dunia akan pulih atau justru semakin melemah.
Tak hanya faktor global, dinamika dalam negeri juga masih menjadi tantangan bagi IHSG, yakni daya beli masyarakat terus melemah, terlihat dari deflasi 0,09 persen pada Februari 2025 yang mencerminkan rendahnya permintaan domestik; pemangkasan anggaran pemerintah berpotensi mengurangi stimulus ekonomi, sehingga memperburuk kepercayaan investor; gelombang PHK di berbagai sektor semakin menekan konsumsi dan stabilitas ekonomi; morgan Stanley menurunkan peringkat saham Indonesia dalam MSCI Index, yang menyebabkan keluarnya dana asing dari pasar modal domestik.
Laporan terbaru dari CSA Index Maret 2025 mengungkapkan bahwa sektor keuangan mulai kehilangan daya tariknya di mata investor. Untuk pertama kalinya, sektor energi dan barang konsumsi non-primer mengambil alih posisi sebagai sektor unggulan.
Baca Juga: Sri Mulyani Diterpa Isu Mundur dari Kabinet, Ini Jawabannya
Tekanan terhadap saham perbankan besar menjadi faktor utama pelemahan sektor keuangan. Akibatnya, target IHSG dalam 12 bulan ke depan dipangkas menjadi 7.125, jauh di bawah proyeksi sebelumnya yang mencapai 8.243 pada Oktober 2024.
Meskipun ketidakpastian masih tinggi, ada beberapa faktor yang bisa menjadi katalis positif bagi IHSG dalam beberapa bulan ke depan:
Kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang lebih akomodatif diharapkan bisa meredam dampak volatilitas global. Peningkatan konsumsi menjelang Ramadan, yang secara historis memberi dorongan bagi sektor konsumsi dan ritel.
Namun, dengan dinamika pasar yang masih penuh tantangan, investor disarankan tetap waspada. (tim)













