NasionalPolitik & Pemerintahan

KEK Didorong Jadi Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi Global, Indonesia Bidik Daya Saing dan Investasi Berkelanjutan

×

KEK Didorong Jadi Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi Global, Indonesia Bidik Daya Saing dan Investasi Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso saat konferensi pers pengembangan KEK sebagai motor hilirisasi dan daya saing investasi, Jakarta 9 September 2025.

EKSPOSTIMES.COM – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kembali menjadi sorotan dalam peta pembangunan nasional. Bukan sekadar episentrum investasi, KEK kini ditargetkan sebagai instrumen strategis yang mengangkat daya saing Indonesia ke panggung global, mempercepat hilirisasi industri, dan sekaligus menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.

Dalam konferensi pers bertajuk “KEK sebagai Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi: Inspiring Growth, Leading Innovation”, di Jakarta, Selasa (09/09), Sekretaris Kemenko Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Susiwijono Moegiarso, menegaskan arah besar pengembangan kawasan.

“Prioritas kita jelas: hilirisasi, penguatan industri berbasis sumber daya alam, dan peningkatan ekspor. KEK harus menjadi mesin pertumbuhan baru yang berdaya saing dan berkontribusi nyata bagi perekonomian nasional,” ujarnya.

Baca Juga: Dewan Pers Gandeng LPSK, Perkuat Tameng Perlindungan Jurnalis dari Ancaman dan Kekerasan

Sejalan dengan RPJMN 2025–2029 dan visi Indonesia Emas 2045, pengembangan KEK diarahkan pada tiga aspek: peningkatan kualitas SDM, riset dan inovasi teknologi, serta penguatan konektivitas nasional–internasional. Targetnya, KEK Indonesia bukan hanya unggul di kawasan, tetapi juga masuk radar utama investor dunia.

Hingga semester I-2025, capaian KEK terbilang impresif: Rp294,4 triliun investasi kumulatif dengan tambahan Rp40,48 triliun dalam enam bulan terakhir. Serapan tenaga kerja mencapai 187.376 orang dari 442 pelaku usaha, melampaui 56% target tahunan.

Beberapa kawasan bahkan telah mencatat tonggak monumental.

  • KEK Gresik menghadirkan smelter tembaga terbesar dunia milik PT Freeport Indonesia, yang sekaligus menghasilkan emas sebagai komoditas tambahan.
  • KEK Kendal meresmikan pabrik anoda baterai berkapasitas 80 ribu ton per tahun, cukup untuk mendukung 1,5 juta mobil listrik.
  • KEK Sei Mangkei menambah investasi Rp6,5 triliun di sektor hilirisasi kelapa sawit dengan ekspor Rp2,7 triliun sepanjang 2024.
  • KEK Nongsa berhasil menggaet Rp5,8 triliun investasi pusat data global.
  • KEK Sanur dengan Bali International Hospital diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp86 triliun dari layanan kesehatan luar negeri.
  • Sementara KEK Singhasari menjadi terobosan di bidang pendidikan, menghadirkan King’s College London dengan target ribuan mahasiswa, disusul Queen Mary University pada 2026.

Tak berhenti di situ, Indonesia juga menyiapkan Indonesia Special Economic Zone Investment Summit and Awards (SEZ-ISA) 2025 pada 11–12 November mendatang di Jakarta. Forum ini akan menghadirkan investor global, lembaga keuangan, asosiasi bisnis, serta pengelola KEK untuk merumuskan kolaborasi jangka panjang.

Plt. Sekjen Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, optimistis forum ini akan menjadi momentum emas.

“SEZ-ISA 2025 adalah panggung pembuktian bahwa KEK Indonesia bukan hanya destinasi investasi, tapi juga lokomotif pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan,” tegasnya.

Dengan capaian dan rencana strategis tersebut, KEK diharapkan bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan simbol kebangkitan Indonesia sebagai pusat pertumbuhan baru dunia, menuju Indonesia Emas 2045. (Lian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d