EKSPOSTIMES.COM- Bursa Efek Indonesia dibuka dengan kejutan besar pagi ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 5% ke posisi 6.270, didorong oleh sentimen global yang membara setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunda pemberlakuan tarif resiprokal terhadap puluhan negara selama 90 hari.
Momentum penguatan ini langsung terasa sejak awal perdagangan Kamis (10/4). Pada sesi pertama yang berakhir pukul 11.30 WIB, IHSG tetap perkasa di level 6.217,5, menguat 249,52 poin atau 4,18%. Indeks bahkan sempat menyentuh titik tertingginya di 6.310,82 sebelum terkoreksi tipis.
Sentimen positif ini menyulut lonjakan aktivitas perdagangan. Volume saham yang ditransaksikan mencapai 4,4 miliar lembar, dengan nilai mencapai Rp3,8 triliun. Dari total 630 saham yang diperdagangkan, 473 saham menguat, hanya 55 melemah, dan 102 stagnan.
Baca Juga: IHSG Terjun Bebas 7,9 Persen, Saham Big Caps Tumbang: Terburuk di Asia dan ASEAN
Kenaikan tajam ini dipicu oleh keputusan mendadak dari Gedung Putih. Presiden Trump mengumumkan bahwa tarif tinggi terhadap 56 negara akan ditangguhkan selama 90 hari. Namun, tensi tetap tinggi setelah China tetap dikenai tarif super tinggi sebesar 125% akibat aksi balasan sebelumnya.
“Saya telah menyetujui penangguhan tarif selama 90 hari dan pemangkasan sementara sebesar 10%,” ujar Trump.
Langkah Trump itu langsung menggairahkan pasar global. Wall Street mencetak rekor reli tertingginya sejak krisis 2008. Euforia ini menjalar ke Asia, termasuk ke Bursa Efek Indonesia, mendorong penguatan indeks secara signifikan.
Analis dari Phintraco Sekuritas menyebut kebijakan ini sebagai “angin segar yang memberi ruang negosiasi dan meredam gejolak.” Namun, mereka juga mengingatkan bahwa Indonesia dan negara-negara ASEAN tetap berisiko terkena dampak negatif jika perang dagang terus memburuk.
“Jika tarif tetap diberlakukan setelah 90 hari, Indonesia bisa terdampak oversupply dari negara lain, berujung pada dumping dan tarif tambahan,” ungkap Phintraco.
Menanggapi potensi dampak lanjutan, pemerintah Indonesia telah menyiapkan langkah antisipatif: penyesuaian kebijakan TKDN, pembukaan kuota impor untuk kebutuhan pokok, dan peningkatan porsi impor LPG dari AS.
Secara teknikal, Phintraco memproyeksikan IHSG hari ini berpotensi mengisi gap ke kisaran 6.160–6.270. Jika euforia berlanjut, indeks bisa melonjak lebih jauh ke 6.450–6.500 dalam waktu dekat.
Sementara itu, CGS International Sekuritas Indonesia mematok support di 5.843–5.719 dan resistance di 6.091–6.215, dengan katalis utama berasal dari reli Wall Street dan penguatan harga komoditas seperti emas, minyak mentah, dan gas alam.
Saham-saham kapitalisasi besar menjadi lokomotif penguatan. Bank BRI (BBRI) melonjak 5,51% ke Rp3.830/saham, menyumbang 30,82 poin terhadap IHSG. Transaksi BBRI menembus Rp625 miliar dari 162 juta lembar saham yang diperdagangkan.
Saham unggulan lain yang menopang IHSG hari ini mencakup BBCA +29,19 poin, BMRI +27,95 poin, GOTO +17,45 poin, BREN +16,85 poin, TLKM +10,34 poin, TPIA +10,21 poin, AMMN +9,23 poin, DCII +8,72 poin, dan BBNI +7,89 poin.
Dengan lonjakan ini, pelaku pasar kini menanti kelanjutan arah kebijakan ekonomi global, khususnya dari AS. Akankah penundaan tarif ini membuka jalan menuju perundingan yang lebih damai? Atau justru menjadi awal dari babak baru dalam perang dagang global?
Satu hal pasti. IHSG tengah menikmati momentum bullish, dan investor Indonesia siap memanfaatkannya. (blo/riz)












