EKSPOSTIMES.COM- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan drama pergerakan pasar yang penuh dinamika pada Rabu dan Kamis (16–17 April 2025). Dibuka menguat, sempat tersungkur ke zona merah, namun akhirnya berhasil bangkit dan ditutup menguat tipis.
Di tengah tekanan eksternal dan aksi jual investor asing, sektor infrastruktur dan barang baku tampil sebagai penyelamat.
Pada sesi Rabu (16/4), IHSG sempat membuka perdagangan dengan semangat, naik 19,59 poin atau 0,30% ke posisi 6.461. Namun hanya dalam 20 menit, indeks terpeleset 0,22% ke level 6.427, memperlihatkan kuatnya tekanan jual yang dilakukan investor, terutama dari asing, di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Baca Juga: IHSG Bergerak Liar! Buyback, Dividen, dan Ketidakpastian Global Jadi Katalis Utama
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat volume perdagangan hari itu mencapai 2,59 miliar saham, dengan nilai transaksi Rp1,49 triliun. Dari total 619 saham yang diperdagangkan, 250 saham menguat, 200 melemah, dan 169 stagnan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas mengamati bahwa IHSG tengah membentuk pola doji di area resistance, mengindikasikan sinyal ketidakpastian dan potensi koreksi.
“Support terdekat berada di level 6.309. Secara tren jangka panjang, indeks masih dalam pola bearish,” tulis mereka.
Baca Juga: IHSG Meroket, Sektor Energi Jadi Motor Penggerak, Buyback dan Dividen Dongkrak Optimisme Pasar
Saham yang direkomendasikan antara lain KLBF, SSMS, dan TPIA. Sementara itu, Phintraco Sekuritas menyoroti kemunculan pola teknikal shooting star, mencerminkan keraguan pelaku pasar terhadap arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat, khususnya menyangkut tarif produk teknologi.
Mereka menyarankan BSDE, SIDO, INDF, BRPT, dan MYOR sebagai saham pilihan.
Panin Sekuritas turut memperingatkan bahwa IHSG belum berhasil menembus resistance jangka pendek di 6.500, sementara support terdekat berada di area MA-20 dan MA-5 (6.325–6.363). Rekomendasi mereka termasuk BSDE, NISP, dan INPC.
Di sisi global, rencana AS menerapkan tarif tambahan untuk semikonduktor dan komponen otomotif menambah beban psikologis pasar. Arus keluar dana asing dan pelemahan Rupiah menjadi kombinasi negatif yang menahan laju indeks.
Namun, CGS International Sekuritas melihat peluang penguatan tetap terbuka. Aksi pembagian dividen dan program buyback saham dari beberapa emiten menjadi katalis positif.
“IHSG berpotensi bergerak variatif cenderung menguat dalam rentang 6.305–6.575,” tulis CGS, dengan saham pilihan seperti INTP, BBNI, BBRI, BRIS, PGAS, dan INDF.
Memasuki sesi I Kamis (17/4), IHSG bergerak di kisaran sempit namun berhasil ditutup naik 3,07 poin atau 0,05% ke level 6.403,12. Indeks sempat menyentuh titik terendah di 6.384,28 dan tertinggi di 6.433,5. Transaksi melonjak tajam, dengan nilai mencapai Rp4,76 triliun dari 7,48 miliar saham.
Baca Juga: IHSG Tersungkur ke Bawah 6.000, Aksi Jual Massal dan Perang Tarif AS-China Picu Krisis Pasar Saham
Sektor infrastruktur mencetak kenaikan tertinggi sebesar 1,78%, disusul sektor barang baku yang menguat 1,48%. Saham seperti CENT, ISAT, dan TLKM menjadi motor penggerak infrastruktur, sementara MDKA, MBMA, dan INCO menopang barang baku.
Saham unggulan LQ45 juga ikut naik 0,14% ke level 718,28. Kontributor utama di antaranya ICBP, JSMR, SIDO, MAPA, dan BRIS.
Dari pasar regional, bursa Asia memberikan dorongan semangat tambahan. Indeks Hang Seng naik 1,29%, Straits Times menguat 1,11%, dan Nikkei 225 melesat 0,83%. Kinerja positif ini turut menyokong psikologi pasar domestik menjelang penutupan pekan.
Fluktuasi tajam dalam dua hari perdagangan terakhir menunjukkan bahwa IHSG masih rawan tekanan eksternal dan aksi profit taking. Namun dukungan dari sektor-sektor defensif serta sentimen positif dari pasar global membuka celah bagi penguatan lanjutan. (tim)













