Ekonomi & Bisnis

IHSG Melejit 1,92 Persen, Didorong Rekor Cadangan Devisa dan Optimisme Investor di Tengah Gejolak Global

×

IHSG Melejit 1,92 Persen, Didorong Rekor Cadangan Devisa dan Optimisme Investor di Tengah Gejolak Global

Sebarkan artikel ini
IHSG melonjak 1,92 persen ke level 6.382,47 ditopang rekor cadangan devisa dan optimisme investor di tengah gejolak global.
Tampilan layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, menunjukkan lonjakan signifikan pada sesi perdagangan Senin, 14 April 2025.

EKSPOSTIMES.COM- Bursa Efek Indonesia kembali diramaikan sentimen positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lonjakan impresif sebesar 1,92% atau 120,24 poin, menutup sesi pertama perdagangan hari ini di level 6.382,47.

Kenaikan tajam ini mencerminkan solidnya kepercayaan pasar terhadap fondasi ekonomi nasional, di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi.

Katalis utama datang dari data cadangan devisa terbaru. Bank Indonesia mengumumkan bahwa per akhir Maret 2025, cadangan devisa Indonesia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, US$ 157,1 miliar, meningkat US$ 2,6 miliar dari bulan sebelumnya.

Baca Juga: IHSG Tersungkur ke Bawah 6.000, Aksi Jual Massal dan Perang Tarif AS-China Picu Krisis Pasar Saham

Angka tersebut cukup untuk membiayai hampir 7 bulan impor, jauh melampaui standar aman internasional.

Sektor energi menjadi bintang utama hari ini. Saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) melambung hingga 13,8%, disusul oleh BUMI dan TOBA yang masing-masing mencetak penguatan dua digit. Lonjakan sektor energi ini menjadi bantalan kuat di tengah kecamuk isu geopolitik dan volatilitas harga komoditas global.

Total nilai transaksi di pasar mencapai Rp7,07 triliun, dengan lebih dari 10,49 miliar saham berpindah tangan dalam 728 ribu kali transaksi. IHSG sempat dibuka melemah di 6.225,33, namun cepat membalik arah, menembus level tertinggi intraday di 6.390,67.

Bank Indonesia turut mencatat apresiasi nilai tukar Rupiah sebesar 0,1%, ke level Rp16.778 per dolar AS. Stabilitas Rupiah ini diperkuat lewat kebijakan intervensi BI di pasar valas serta penarikan pinjaman luar negeri yang mempertebal cadangan devisa.

BI menegaskan, peningkatan devisa utamanya bersumber dari penerimaan pajak, jasa, serta respons strategis terhadap tekanan global. Stabilitas moneter menjadi sorotan pelaku pasar di tengah derasnya ketidakpastian.

Dari sisi eksternal, investor dikejutkan oleh pernyataan kontroversial Presiden AS, Donald Trump, yang kembali menggulirkan rencana tarif tinggi terhadap barang elektronik strategis. Meski penerapannya ditunda 90 hari, Trump menegaskan akan fokus pada rantai pasok semikonduktor dan elektronik. Pernyataan ini memicu arus dana global beralih ke aset safe haven.

Indonesia, merespons cepat situasi tersebut, membuka peluang negosiasi perdagangan baru termasuk potensi ekspansi kerja sama LPG dan penyesuaian kebijakan TKDN demi menjaga daya saing nasional.

Analis dari Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran 6.000–6.500 dalam sepekan ke depan, dengan rekomendasi saham pilihan seperti TLKM, MEDC, ICBP, RAJA, TAPG, dan TKIM. Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas masih melihat tren jangka panjang yang bearish, namun mengantisipasi konsolidasi antara level support 6.096 dan resistance 6.421, dengan ANTM dan WIFI sebagai saham pilihan.

Sentimen positif turut menyelimuti bursa Asia. Indeks Hang Seng naik 2,18%, Strait Times menguat 1,44%, dan bursa China juga ikut menghijau. KOSPI Korea Selatan menanjak 0,92%. Hanya NIKKEI 225 Jepang yang terkoreksi 1,56% akibat kekhawatiran internal.

Lonjakan IHSG hari ini menjadi sinyal kuat bahwa sentimen domestik, terutama data ekonomi makro dan stabilitas Rupiah, masih menjadi jangkar utama di tengah ketidakpastian global. Investor akan terus mencermati perkembangan kebijakan perdagangan internasional serta arah kebijakan moneter dalam dan luar negeri sebagai penentu arah pasar di pekan-pekan mendatang. (riz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *