EKSPOSTIMES.COM — Pasar modal Indonesia dikejutkan dengan aksi jual besar-besaran yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 7,9% atau kehilangan 514,47 poin ke level 5.996,14 hingga penutupan perdagangan Selasa (8/4/2025).
Ini menjadi level penutupan terendah IHSG sejak akhir 2022 dan mencatat penurunan harian terdalam di Asia dan kawasan ASEAN.
Sejak awal perdagangan pagi pukul 09.00 WIB, tekanan jual langsung menyeret IHSG ke zona merah. Tak butuh waktu lama, Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan trading halt atau penghentian sementara perdagangan selama 30 menit, menyusul penurunan IHSG yang menembus ambang batas 5%.
Pada sesi pertama, indeks sempat jatuh lebih dalam hingga minus 598 poin atau setara 9,19% ke level 5.912, menjadikannya indeks dengan kinerja terburuk di kawasan Asia untuk hari ini. Rentang perdagangan IHSG tercatat berada di level tertinggi 6.036,55 hingga level terendah 5.882,6 sepanjang sesi.
Baca Juga IHSG Meroket 0,59 Persen, Saham Properti dan Industri Jadi Motor Penguatan
Data BEI mencatat nilai transaksi pada hari ini mencapai Rp20,94 triliun dari 22,78 miliar saham yang ditransaksikan dengan frekuensi 1,42 juta kali. Namun dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 30 saham yang menguat, 672 saham melemah, dan 95 saham stagnan.
Koreksi tajam IHSG hari ini sebagian besar disebabkan oleh aksi jual pada saham-saham kapitalisasi besar (big caps), khususnya sektor keuangan dan perbankan. Saham-saham unggulan seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) mengalami tekanan jual signifikan.
Secara rinci, saham BBRI menjadi penekan terbesar dengan mengurangi 63,36 poin terhadap IHSG, diikuti oleh BMRI yang menurunkan 47,63 poin dan BBCA sebesar 47,44 poin. Di sektor energi dan teknologi, Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 29,46 poin dan GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) menyumbang penurunan 26,49 poin.
Saham lainnya yang turut memperberat indeks di antaranya:
- Amman Mineral Internasional (AMMN): -24,64 poin
- DCI Indonesia (DCII): -23,83 poin
- Astra International (ASII): -19,97 poin
- Telkom Indonesia (TLKM): -13,96 poin
- United Tractors (UNTR): -11,27 poin
Selain sektor keuangan, saham-saham barang baku dan teknologi juga mengalami koreksi tajam. Tiga sektor paling terpukul masing-masing mencatatkan penurunan dua digit: sektor barang baku -10,5%, teknologi -10,2%, dan konsumen non-primer -8,82%.
Di sektor barang baku, sejumlah emiten besar merosot tajam:
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO): -14,9%
- PT Semen Indonesia Tbk (SMGR): -14,7%
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): -14,6%
- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA): -14,6%
- PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL): -14,4%
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): -14,4%
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): -14,3%
- PT Semen Baturaja Tbk (SMBR): -12,9%
Koreksi tajam IHSG hari ini tak lepas dari tekanan eksternal, utamanya kekhawatiran investor terhadap potensi perang dagang global yang berlarut-larut. Analis menyebut belum adanya kejelasan arah pemulihan ekonomi global turut memperburuk sentimen pasar, memicu aksi jual masif oleh pelaku pasar domestik maupun asing.
Baca Juga: IHSG Terpeleset di Hari Terakhir Perdagangan Sebelum Libur Panjang Lebaran
“Investor saat ini berada dalam mode penghindaran risiko. Ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global akibat konflik perdagangan membuat pasar semakin waspada,” ujar seorang analis pasar modal dari perusahaan sekuritas di Jakarta.
IHSG yang menembus di bawah level psikologis 6.000 menjadi perhatian utama investor. Jika tekanan tidak segera mereda, bukan tidak mungkin indeks akan bergerak menuju support teknikal berikutnya di kisaran 5.800.
Para pelaku pasar kini menanti langkah-langkah stabilisasi dari regulator pasar modal dan kebijakan fiskal pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan investor. Sementara itu, sentimen dari bursa global dan arah perundingan geopolitik akan tetap menjadi faktor utama dalam pergerakan IHSG dalam waktu dekat. (*/Red)













