EKSPOSTIMES.COM- Pasar keuangan Indonesia kembali diguncang. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tajam pada perdagangan Senin, 7 April 2025. Mata uang Garuda merosot 169 poin atau 1,01 persen ke level Rp16.822 per dolar AS, menjadi level terlemah dalam beberapa bulan terakhir.
Pemicunya? Pernyataan mengejutkan dari Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, yang menegaskan bahwa kebijakan tarif perdagangan agresif ala Washington tetap akan dijalankan tanpa kompromi, termasuk terhadap Indonesia.
“Sentimen risk-off mendominasi pasar. Investor global memilih menjauh dari aset berisiko, termasuk rupiah, setelah Mendag AS memastikan tarif baru tetap berjalan,” ujar Lukman Leong, analis senior dari Doo Financial Futures
Pernyataan Lutnick menegaskan arah kebijakan dagang Presiden Donald Trump yang memantik eskalasi ketegangan dagang global. Dengan kebijakan tarif timbal balik dan universal yang mulai berlaku awal April, Indonesia dan lebih dari 60 negara lainnya masuk daftar ‘korban tarif’.
Indonesia berada di posisi ke-8 negara yang paling terdampak, dengan tarif impor mencapai 32 persen. Negara-negara Asia Tenggara lainnya juga tak luput: Malaysia (24%), Kamboja (49%), Vietnam (46%), dan Thailand (36%).
Baca Juga: Pemerintah Kirim Tim Lobi ke AS untuk Respons Kenaikan Tarif Impor Trump
Tarif baru ini mencakup berbagai sektor strategis dan diyakini akan memberikan tekanan besar terhadap neraca dagang nasional.
Kebijakan agresif AS tidak hanya menargetkan Asia Tenggara. China, sebagai rival dagang utama AS, kembali menjadi sasaran tarif besar-besaran. Mulai April ini, AS mengenakan bea 54 persen atas berbagai produk China, sementara China membalas dengan tarif 34 persen untuk seluruh barang asal AS mulai 10 April 2025.
Bukan hanya itu. AS juga telah menerapkan tarif 25 persen untuk mobil buatan luar negeri dan tambahan tarif serupa untuk baja serta aluminium. Produk-produk utama dari China, seperti batu bara, gas alam, dan produk pertanian AS, juga tak luput dari balasan tarif yang semakin intens.
Dengan China sebagai eksportir terbesar kedua ke AS, volume perdagangan global dalam ancaman serius. Tahun lalu saja, nilai ekspor China ke AS mencapai 426,9 miliar dolar AS, sementara impor dari AS hanya 147,8 miliar dolar AS, menciptakan defisit yang menjadi amunisi politik utama Trump.
Dampaknya pun menyebar ke pasar negara berkembang seperti Indonesia, yang kini harus menghadapi ancaman ganda: tekanan perdagangan global dan volatilitas nilai tukar.
Lukman Leong memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih jauh dari usai.
“Selama ketegangan dagang belum reda, tekanan akan terus ada. Bank Indonesia kemungkinan harus terus turun tangan agar rupiah tidak menembus Rp17.000,” katanya.
Intervensi pasar oleh BI menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah badai eksternal yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. (tim)













