EKSPOSTIMES.COM- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali diterjang badai. Kali ini, kombinasi aksi jual investor dan gejolak geopolitik global, terutama perang tarif antara Amerika Serikat dan China, menyeret indeks ke bawah level psikologis 6.000, membuat pasar modal Tanah Air kembali bergejolak.
Pada penutupan sesi siang, IHSG anjlok 41,11 poin atau 0,69% ke posisi 5.955. Angka ini menandai penurunan signifikan setelah IHSG sempat menyentuh titik tertinggi harian di 6.092,41 sebelum tergelincir menuju titik nadir di 5.949,6.
Aksi jual masif mendominasi hampir seluruh sesi perdagangan hari ini. Volume transaksi tercatat menyentuh 16,58 miliar saham dengan nilai fantastis Rp10,28 triliun, tersebar dalam lebih dari 1 juta transaksi. Dari 790 saham yang diperdagangkan, hanya 278 saham yang bertahan di zona hijau, sementara 339 ambruk dan 173 stagnan.
Saham-saham sektor barang baku dan energi menjadi penekan utama IHSG. Sektor barang baku mencatat koreksi terdalam sebesar 2,88%, diikuti sektor konsumen non-primer (turun 2,28%) dan energi (turun 2,02%).
Baca Juga: IHSG Meroket 0,59 Persen, Saham Properti dan Industri Jadi Motor Penguatan
Beberapa saham big caps yang memicu tekanan tajam di antaranya BREN -19,54 poin, TPIA -9,65 poin, MDKA -5,15 poin, INDF -4,66 poin, GOTO -4,46 poin, CUAN, PANI, MEGA, BRPT, FILM turut menyumbang koreksi signifikan.
Pelemahan juga terlihat pada saham sektor barang baku seperti WSBP (-7,69%) dan SMGR (-7,52%), serta sektor energi seperti RATU (-14,4%), RAJA (-11,4%), dan PTRO (-9,66%).
Biang utama dari kekacauan pasar hari ini berasal dari Washington dan Beijing. Presiden AS Donald Trump kembali mengipasi bara perang dagang dengan menyatakan tak akan menunda tarif tambahan terhadap puluhan negara, termasuk China.
“Kami tidak mempertimbangkan negosiasi,” tegas Trump dalam pernyataannya. “Tarif permanen bisa terjadi.”
Tak tinggal diam, China langsung mengumumkan tarif balasan yang menarget produk-produk strategis dari AS.
Analis global memperingatkan, jika ketegangan ini terus meningkat, dunia bisa kembali tergelincir ke jurang resesi global. Bruce Kasman dari JPMorgan menegaskan bahwa 2025 bisa menjadi tahun yang genting bagi perekonomian dunia jika konflik dagang terus bereskalasi.
Di awal perdagangan, IHSG sempat mencoba bangkit. Indeks dibuka melemah tipis ke 5.978, tapi langsung melonjak hingga menyentuh 6.076 pada pukul 09.10 WIB. Namun euforia itu hanya sesaat, karena sentimen luar negeri kembali menekan pasar hingga siang hari.
Dengan eskalasi geopolitik dan ketidakpastian global yang masih membayangi, pelaku pasar disarankan tetap selektif dan menghindari aksi spekulatif jangka pendek. Sementara itu, fokus jangka panjang dan diversifikasi portofolio menjadi kunci bertahan di tengah badai pasar. (blo/tim)










