EKSPOSTIMES.COM- Kehadiran Tentara Nasional Indonesia (TNI) di sejumlah perguruan tinggi belakangan ini menuai pro dan kontra. Beberapa pihak menilai langkah tersebut sebagai upaya kontrol terhadap mahasiswa, sementara TNI menegaskan bahwa kehadiran mereka di kampus semata-mata untuk memberikan wawasan kebangsaan dan pelatihan kedisiplinan.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Brigjen Kristomei Sianturi, menepis anggapan bahwa TNI masuk ke kampus tanpa izin. Ia menegaskan bahwa kehadiran mereka selalu berdasarkan undangan resmi dari pihak universitas.
“Bukan TNI yang masuk begitu saja ke kampus, melainkan kami yang diundang. Kegiatan ini tidak ada kaitannya dengan pengesahan RUU TNI,” ujar Brigjen Kristomei dalam keterangannya, Kamis (3/4/2025).
Ia menambahkan bahwa sejak dulu, berbagai universitas telah meminta keterlibatan TNI dalam memberikan wawasan kebangsaan serta pelatihan disiplin kepada mahasiswa.
Baca Juga: Perkuat Sinergi TNI-Polri, Kapolres Tomohon AKBP Nur Kholis Kunjungi Rindam XIII/Merdeka
“Ini bukan hal yang baru, sudah berlangsung sejak lama di berbagai perguruan tinggi,” jelasnya.
Sejumlah pihak mengaitkan intensitas kunjungan TNI ke kampus dengan revisi UU TNI yang sedang bergulir. Kritik datang dari mahasiswa dan akademisi yang mengkhawatirkan potensi pembatasan kebebasan akademik.
Menanggapi hal itu, Kristomei menilai bahwa persepsi tersebut muncul akibat narasi yang menghubungkan dua hal yang sebenarnya tidak berkaitan.
“Mungkin ada yang mengait-ngaitkan, padahal kegiatan ini bukan sesuatu yang baru,” tegasnya.
Namun, tidak sedikit akademisi yang tetap menyuarakan kekhawatiran mereka. Mereka berpendapat bahwa keterlibatan militer dalam lingkungan akademik harus diawasi agar tidak mengarah pada pengendalian pemikiran kritis mahasiswa.
Sebagian akademisi menilai bahwa kampus seharusnya tetap menjadi ruang bebas dari pengaruh militer demi menjaga independensi intelektual. Di sisi lain, beberapa universitas yang telah bekerja sama dengan TNI menegaskan bahwa program ini bertujuan positif, seperti meningkatkan nasionalisme dan kedisiplinan mahasiswa tanpa unsur intervensi.
Perdebatan mengenai kehadiran TNI di lingkungan akademik masih terus bergulir. TNI menegaskan bahwa mereka hanya datang atas undangan dan tidak berniat membatasi kebebasan mahasiswa. Namun, akademisi dan organisasi mahasiswa tetap mengawasi agar kehadiran militer di kampus tidak mengancam kebebasan akademik.
Dalam dinamika ini, penting bagi seluruh pihak untuk menjaga keseimbangan antara wawasan kebangsaan dan kebebasan akademik. Kampus harus tetap menjadi ruang yang aman bagi diskusi ilmiah, tanpa ada tekanan dari pihak mana pun. (tim)













