Ekonomi & Bisnis

IHSG Terjun Bebas, Ekonomi Indonesia di Ujung Tanduk! Daya Beli Merosot, Utang Membengkak

×

IHSG Terjun Bebas, Ekonomi Indonesia di Ujung Tanduk! Daya Beli Merosot, Utang Membengkak

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan IHSG yang mengalami penurunan tajam, mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia yang sedang tertekan.
Foto ilustrasi IHSG turun drastis 1,94% ke level 6.258,18, menandakan gejolak pasar dan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia.

EKSPOSTIMES.COM- Pasar saham Indonesia kembali bergolak, mencerminkan gejolak ekonomi yang kian terasa di semua lini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,94% ke level 6.258,18 pada penutupan perdagangan Jumat (21/3), setelah sempat terangkat oleh euforia sesaat di dua hari sebelumnya.

Kenaikan singkat IHSG sebelumnya lebih disebabkan oleh reli saham konglomerat seperti milik Prajogo Pangestu dan Toto Sugiri. Namun, begitu saham-saham tersebut melemah, IHSG langsung terjerembab, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih rapuh.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa surplus perdagangan Indonesia pada Februari 2025 mencapai US$ 3,12 miliar, lebih rendah dibandingkan Januari yang menyentuh US$ 3,45 miliar.

Baca Juga: IHSG Dibuka Melemah, Investor Waspada Tekanan Jual Asing

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah anjloknya impor barang konsumsi hingga US$ 1,47 miliar, turun 10,61% secara bulanan dan 21,05% secara tahunan. Hal ini mengindikasikan lemahnya daya beli masyarakat, terutama menjelang Ramadan, periode yang biasanya menjadi puncak konsumsi.

Lebih lanjut, Indonesia mengalami deflasi 0,48% (mtm) dan 0,09% (yoy) pada Februari 2025, dipicu oleh turunnya harga bahan pangan seperti ayam, cabai, dan bawang merah, serta diskon tarif listrik.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Andry Asmoro, menyebut deflasi ini sebagai anomali yang mengkhawatirkan.

Baca Juga: IHSG Meroket 1,11 Persen, Saham Big Cap Jadi Sorotan, Wall Street Beri Angin Segar

“Biasanya, menjelang Ramadan, permintaan melonjak dan menyebabkan inflasi. Tapi kali ini justru sebaliknya, ini pertanda ekonomi sedang lesu,” ujarnya.

Di sisi fiskal, Indonesia menghadapi tantangan besar dengan utang jatuh tempo yang membengkak. Tahun ini, pemerintah harus melunasi utang senilai Rp 800,33 triliun, hampir dua kali lipat dari 2024 yang hanya Rp 434,29 triliun.

Tak hanya itu, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang akan jatuh tempo juga mendekati Rp 1.000 triliun, berpotensi menggerus cadangan devisa dan menekan nilai tukar rupiah.

Baca Juga: IHSG Melonjak 1,42 Persen, Awal Pemulihan atau Sekadar Angin Segar Sementara?

APBN juga mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Dalam dua bulan pertama 2025, defisit sudah mencapai Rp 31,2 triliun (0,13% dari PDB), diperburuk oleh penerimaan pajak yang anjlok 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan penerimaan pajak dipicu oleh dua faktor utama, yakni anjloknya harga komoditas, seperti minyak mentah (-5,2%), batu bara (-11,8%), dan nikel (-5,9%), serta gangguan sistem administrasi pajak (Coretax) yang mengalami kendala sejak awal tahun, diperparah dengan kebijakan restitusi pajak yang lebih besar.

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai US$ 427,5 miliar (Rp 6.968,25 triliun) per Januari 2025, naik 5,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini terutama berasal dari utang pemerintah dan BI, yang semakin membebani anggaran negara di tengah lesunya pertumbuhan ekonomi.

Meski BI menegaskan bahwa utang masih terkendali, para ekonom mengingatkan bahwa peningkatan utang di tengah penurunan pendapatan negara bisa menjadi bom waktu yang mengancam stabilitas fiskal.

IHSG yang babak belur, daya beli yang merosot, utang yang membengkak, serta APBN yang makin terbebani menandakan bahwa ekonomi Indonesia berada di titik kritis.

Tanpa langkah konkret untuk mendorong konsumsi, menarik investasi, dan memperbaiki sistem perpajakan, ekonomi nasional bisa terus terperosok. Kebijakan moneter dan fiskal yang lebih ketat mungkin diperlukan, tetapi jika tanpa pemulihan daya beli, Indonesia bisa menghadapi perlambatan ekonomi yang berkepanjangan. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *