Ekonomi & Bisnis

Purbaya Pasang Alarm: Tanpa Lonjakan Pertumbuhan, RI Rentan Ambruk Saat Dunia Bergejolak

×

Purbaya Pasang Alarm: Tanpa Lonjakan Pertumbuhan, RI Rentan Ambruk Saat Dunia Bergejolak

Sebarkan artikel ini
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperingatkan risiko stagnasi ekonomi Indonesia jika pertumbuhan tidak dipacu di tengah gejolak global. (foto. istimewa)

EKSPOSTIMES.COM- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peringatan keras soal masa depan ekonomi Indonesia. Target pertumbuhan 8 persen yang dipatok Presiden Prabowo Subianto, kata dia, bukan sekadar ambisi, melainkan syarat mutlak agar Indonesia naik kelas menjadi negara maju.

“Semua negara maju pernah melewati fase pertumbuhan dua digit selama lebih dari sepuluh tahun,” ujar Purbaya dalam Dialog Interaktif Pemerintah Pusat dan Daerah di Hotel Bidakara, Jakarta, belum lama ini.

Tanpa lompatan pertumbuhan, Indonesia dinilainya akan terus tertahan di kelas menengah.

Menurut Purbaya, pertumbuhan tinggi hanya mungkin dicapai bila pemerintah berani mengubah arah kebijakan menjadi lebih agresif dan pro-pertumbuhan. Jika ekonomi bertahan di kisaran 5 persen, Indonesia memang tampak stabil, tetapi rapuh.

“Kalau begini terus, ya kelihatannya bagus. Tapi kalau ada gejolak dunia, hancur. Kalau dunia maju, kita ya segitu-segitu saja,” kata Purbaya, menegaskan risiko stagnasi di tengah ketidakpastian global.

Sejak dilantik sebagai Bendahara Negara pada 8 September 2025, Purbaya mulai mengeksekusi langkah cepat dengan menempatkan dana pemerintah di perbankan nasional. Kebijakan itu ditujukan untuk memompa likuiditas dan menggerakkan kembali roda ekonomi domestik. Pemerintah menilai efek awalnya mulai terasa.

Purbaya memperkirakan dampak kebijakan tersebut akan terlihat lebih nyata pada 2026. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen sebagai pijakan awal menuju sasaran 8 persen.

“Tahun 2026 akan berbeda dibandingkan tahun-tahun setelah krisis. Kita perkirakan ekonomi tumbuh 6 persen,” ujar Purbaya.

Bagi pemerintah, pertumbuhan tinggi bukan pilihan, melainkan taruhan. Tanpa lompatan, Indonesia berisiko tertinggal saat dunia kembali berlari. (dtc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *