EKSPOSTIMES.COM- Langit kelabu menyelimuti Distrik Anggruk, Papua Pegunungan, bukan hanya karena cuaca yang tak menentu, tetapi juga karena duka mendalam yang menyelimuti daerah itu. Enam guru kontrak yang tengah mengabdi dalam program Yahukimo Cerdas menjadi korban kebiadaban Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Mereka dibunuh dengan keji, bahkan diduga dibakar bersama gedung sekolah tempat mereka mengajar.
Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, langsung bergerak. Ia memastikan bahwa tim evakuasi sudah diberangkatkan untuk mengevakuasi jenazah para korban serta warga sipil yang terjebak dalam situasi mencekam. Namun, operasi ini masih menghadapi kendala besar: cuaca yang tak menentu.
Baca Juga; Terungkap! Senjata dan Amunisi Senilai Rp1,3 Miliar untuk KKB Puncak Jaya Diamankan di Papua
“Kami berharap cuaca bersahabat agar pesawat bisa mendarat dan membawa pulang para korban,” ujar Bupati Didimus Yahuli, Minggu (23/3).
Ia mengecam keras aksi brutal ini dan meminta TNI–Polri segera membangun pos keamanan di Anggruk, yang selama ini dikenal sebagai daerah damai.
Serangan yang terjadi pada Jumat (21/3) itu diklaim dilakukan oleh pasukan Batalion Eden Sawi dan Sisipa dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM).
Baca Juga: Usulan Amnesti untuk Anggota KKB, Menkumham Sudah Laporkan ke Presiden Prabowo
Panglima Kodam TPNPB OPM Kodam XVI Yahukimo, Elkius Kobak, secara terbuka mengakui bahwa kelompoknya bertanggung jawab atas pembunuhan para guru tersebut. Ia menuduh para korban sebagai agen intelijen yang menyamar.
“Saya perintahkan pasukan untuk membunuh enam anggota TNI yang berprofesi sebagai guru,” klaim Elkius dalam pernyataan tertulis, Sabtu (22/3).
Juru bicara TPNPB OPM, Sebby Sambom, bahkan memperingatkan tenaga pendidik dan tenaga kesehatan lainnya untuk segera meninggalkan wilayah konflik. Ia juga menantang pemerintah pusat agar tidak membalas serangan ini dengan tindakan sembarangan.
Baca Juga: Menhukam Supratman: Usulan Amnesti untuk Napi KKB Akan Dikonsultasikan ke Presiden
“Kami sampaikan kepada Presiden Prabowo dan Panglima TNI agar tidak menyerang warga sipil seenaknya,” tegas Sebby.
Sementara itu, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Candra Kurniawan, membenarkan bahwa enam guru tersebut tidak hanya dibunuh, tetapi juga dibakar dalam gedung sekolah.
“Ini bukan sekadar serangan, ini pembantaian. Mereka dibunuh dengan keji, lalu gedung sekolah dan rumah-rumah guru ikut dibakar,” ungkap Kolonel Candra, Minggu (23/3).
Baca Juga: Menhukam Supratman: Usulan Amnesti untuk Napi KKB Akan Dikonsultasikan ke Presiden
Menyadari ancaman yang semakin meningkat, TNI langsung bertindak cepat dengan mengevakuasi puluhan guru dan tenaga medis dari berbagai distrik di Papua Pegunungan. Mereka kini diterbangkan ke Jayapura untuk mendapatkan perlindungan lebih lanjut.
Di tengah upaya penyelamatan ini, Bupati Didimus Yahuli menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk memastikan keselamatan para tenaga pendidik dan kesehatan.
Papua kembali memanas. Di satu sisi, pemerintah berjuang untuk membawa pendidikan ke pelosok negeri. Di sisi lain, nyawa mereka yang mengabdi justru menjadi target. Akankah tragedi ini menjadi pemicu langkah tegas dari pemerintah pusat? Ataukah kita akan kembali menyaksikan sejarah kelam ini berulang?. (Red)













