EKSPOSTIMES.COM- Ketua DPR RI, Puan Maharani, angkat suara tegas menyusul mencuatnya kasus kekerasan seksual di Garut yang melibatkan seorang oknum dokter kandungan. Kasus ini tak hanya mengguncang jagat media sosial, tapi juga menjadi alarm keras bagi sistem kesehatan nasional.
“Setiap hari kita mendengar kisah memilukan tentang kekerasan seksual. Ini bukan hanya derita korban, ini PR besar kita sebagai bangsa,” tegas Puan dalam pernyataan resminya di Jakarta, Rabu (16/4/2025).
Kasus bermula dari video pemeriksaan USG yang tersebar luas di media sosial. Diduga, sang dokter berinisial MSF, yang bertugas di Kabupaten Garut, melakukan pelecehan seksual terhadap pasien saat pemeriksaan berlangsung.
Baca Juga: Puan Maharani: Jangan Buru-buru Curiga Soal WIUP untuk Kampus
Rekaman itu memicu gelombang kemarahan publik dan membuat banyak korban lainnya mulai bersuara.
Puan menekankan bahwa tindakan seperti ini adalah pelanggaran berat terhadap etika profesi kedokteran dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Ruang periksa dokter kandungan harusnya menjadi tempat aman, bukan tempat yang membuat perempuan takut,” ujarnya lantang.
Ia pun meminta Kementerian Kesehatan segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan praktik medis.
“Perlu ada jaminan perlindungan bagi pasien perempuan dari pelecehan dalam bentuk apapun,” tambahnya.
Baca Juga: Didit Hadiprasetyo Temui Megawati, Jalan Megawati-Prabowo Bertemu Makin Terbuka
Kapolres Garut, AKBP M. Fajar Gemilang, mengonfirmasi bahwa hingga Rabu siang, sudah dua korban melapor secara resmi, berbeda dari korban dalam video viral. Artinya, setidaknya telah teridentifikasi tiga korban berbeda.
“Kami membuka ruang selebar-lebarnya bagi korban lainnya untuk melapor,” jelas Kapolres.
Namun berdasarkan penelusuran, jumlah korban bisa lebih banyak. Banyak perempuan yang masih trauma dan takut bicara. Sebut saja Mawar, warga Cibatu, yang mengaku menerima pesan mesum dari dokter setelah pemeriksaan.
“Awalnya diminta nomor WA untuk kirim hasil USG. Tapi pesannya jadi nggak pantas,” ujarnya.
Melati (27), warga Tarogong Kaler, juga bercerita tentang perasaan tak nyaman saat diperiksa.
“Dulu saya pikir cuma perasaan saya. Tapi setelah ramai di medsos, saya yakin itu memang pelecehan,” ucapnya lirih.
Korban lain, Bunga, bahkan mengaku mengalami tindakan fisik yang mengerikan.
“Dia meremas tubuh saya saat USG. Saya langsung freeze. Pulang ke rumah cuma bisa nangis,” kisahnya.
Baca Juga: Viral Oknum Polisi Diduga Lecehkan Penjual Kopi di Cisauk, Polres Tangsel: Kami Proses Sesuai Etik
Salah satu bukti lain yang menguatkan adalah screenshot percakapan WA yang memperlihatkan pesan tak senonoh dari MSF. Salah satunya berbunyi, “Masa harus ditiduri,” ketika korban mengeluh susah tidur.
Puan mendesak aparat untuk menindak tegas jika MSF terbukti bersalah, dan meminta agar semua korban diberi ruang aman untuk melapor.
“Jangan biarkan korban bungkam karena takut atau merasa tidak akan didengar. Negara harus hadir!” tutup Puan.
Kasus ini telah menyulut gelombang kemarahan publik di media sosial. Tagar seperti #LawanPelecehan, #AmanDiRuangPeriksa, dan #KeadilanUntukKorban mulai ramai digunakan. Masyarakat berharap agar kasus ini menjadi momentum reformasi etika profesi tenaga kesehatan di Indonesia. (tim)













