EKSPOSTIMES.COM – Gelombang kericuhan di Jakarta pekan lalu mulai terurai benang merahnya. Polda Metro Jaya mengonfirmasi telah menetapkan 38 orang sebagai tersangka. Seluruhnya kini resmi ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary Syam Indradi, menyebut para tersangka terbukti melakukan tindakan yang membahayakan keamanan publik dan aparat.
“Sampai dengan hari ini, kami telah menahan 38 tersangka. Mereka ditahan karena dugaan keterlibatan dalam aksi anarkis,” kata Ade Ary dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (2/9/2025).
Baca Juga: Sindikat Penipuan Modus BEC Dibongkar Polda Metro Jaya, Kerugian Capai Rp1,6 Miliar
Deretan aksi brutal itu cukup beragam. Ada yang melempar bom molotov ke arah petugas, ada pula yang menyerang dengan batu hingga bambu. Tak berhenti di situ, sejumlah pelaku juga diduga merusak mobil dan membakar fasilitas umum. Salah satunya halte TransJakarta di depan sebuah mal berinisial F, kawasan Jalan Sudirman, yang hangus dilalap api di tengah kepanikan massa.
Tak kalah serius, polisi juga menemukan adanya upaya provokasi terhadap kalangan pelajar. Ajakan hasutan agar anak-anak terlibat dalam aksi anarkis, menurut Ade Ary, menjadi salah satu faktor yang memperkeruh situasi.
“Ada tersangka yang kami tahan karena diduga menghasut pelajar untuk turun ke jalan dan berbuat anarkis,” tegasnya.
Kericuhan itu meninggalkan jejak kerusakan yang tidak kecil. Jalanan ibu kota sempat lumpuh, warga ketakutan, dan fasilitas umum terbakar. Aparat yang bertugas pun menjadi sasaran serangan fisik. Bagi polisi, tindakan ini bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan ancaman serius terhadap ketertiban umum.
Penahanan 38 tersangka ini sekaligus menjadi sinyal keras. Negara tidak akan tinggal diam menghadapi aksi yang mengarah pada kekacauan. Ade Ary menegaskan, penyidikan masih berjalan, dan tak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru.
“Kami akan terus mengusut, mencari dalang, aktor lapangan, hingga pihak yang mendanai aksi ini,” katanya.
Di balik dinginnya jeruji besi yang kini menunggu, publik menanti akhir kisah para pelaku ricuh ini. Sementara itu, Jakarta kembali berusaha bernafas lega. Namun, bayangan kericuhan masih jelas terasa, mengingatkan bahwa keamanan kota bisa rapuh seketika jika provokasi dibiarkan tanpa kendali. (det/tim)













