Hukum & Kriminal

Banjir dan Longsor Isolasi Tabukan Selatan Sangihe, Dua Rumah Tertimbun, Aktivitas PETI Jadi Sorotan

×

Banjir dan Longsor Isolasi Tabukan Selatan Sangihe, Dua Rumah Tertimbun, Aktivitas PETI Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
BANJIR dan tanah longsor melanda Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

EKSPOSTIMES.COM- Banjir dan tanah longsor melumpuhkan sejumlah kampung di Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Rabu (22/7/2026). Sedikitnya dua rumah tertimbun longsor, puluhan rumah terendam banjir, dan akses transportasi antarkampung terputus setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan itu sejak Selasa (21/7) malam.

Bencana yang terjadi sekitar pukul 09.10 Wita itu menerjang Kampung Lesabe, Lesabe I, dan Malamenggu. Hingga Rabu malam belum dilaporkan adanya korban jiwa, namun kerusakan infrastruktur dan permukiman memaksa warga bergotong royong membuka akses yang tertutup material longsor.

Jalur penghubung Lesabe (Tiwelo) menuju Kalagheng lumpuh akibat luapan banjir. Sementara itu, ruas Bentung–Lesabe terputus total setelah badan jalan tertimbun material longsor. Kondisi tersebut menghambat mobilitas warga sekaligus distribusi bantuan menuju wilayah terdampak.

Petugas bersama pemerintah kampung dan masyarakat masih bekerja membuka jalur yang terisolasi serta mendata kerusakan akibat bencana.

Di tengah upaya penanganan darurat, perhatian warga juga tertuju pada aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang beroperasi menggunakan alat berat. Sejumlah warga menduga aktivitas tersebut ikut memperparah dampak bencana karena mengubah bentang alam, mengurangi tutupan vegetasi, dan meningkatkan kerentanan lereng terhadap longsor saat diguyur hujan deras.

Meski demikian, dugaan keterkaitan aktivitas PETI dengan banjir dan longsor masih memerlukan penyelidikan serta kajian teknis dari instansi yang berwenang.

Peristiwa ini kembali menegaskan tingginya kerentanan wilayah Tabukan Selatan terhadap bencana hidrometeorologi. Di sisi lain, tuntutan agar pemerintah menertibkan aktivitas pertambangan ilegal dan memperketat pengawasan terhadap kawasan hulu kembali menguat, menyusul munculnya dugaan bahwa kerusakan lingkungan memperbesar risiko bencana ketika hujan ekstrem melanda.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah daerah bersama aparat terkait masih melakukan pendataan kerusakan, membuka akses jalan yang terputus, dan mengantisipasi potensi banjir maupun longsor susulan mengingat curah hujan di wilayah tersebut masih tinggi. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *