EKSPOSTIMES.COM- Kepemimpinan Bupati Minahasa Robby Dondokambey kembali jadi sorotan. Tokoh mudah Sulut, Robby Liando, menuding kinerja birokrasi Minahasa jalan di tempat, minim gebrakan, dan justru lebih sibuk membangun panggung pencitraan ketimbang menghadirkan perubahan nyata.
Menurut Liando, publik tak melihat pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar rakyat. Jalan rusak dibiarkan, fasilitas umum terbengkalai, pelayanan publik lamban, sementara program pembangunan hanya ramai di seremoni dan publikasi media.
“Dari delapan misi besar yang dikampanyekan, hampir semuanya tidak kelihatan hasilnya. Masyarakat bingung, apakah ini cuma janji politik atau memang tidak ada kemampuan merealisasikannya,” sembur Liando, Sabtu (6/9).
Baca Juga: Aktivis Desak Bupati Minahasa Evaluasi Sekda Lynda Wantania, Borok Anggaran Kembali Terkuak
Delapan misi yang dimaksud meliputi transformasi SDM, reformasi tata kelola, ekonomi inklusif, penegakan perda, pemerataan pembangunan, infrastruktur ramah lingkungan, hingga pembangunan berkelanjutan. Namun, kata Liando, semua itu masih sekadar jargon politik tanpa bukti di lapangan.
Di sektor infrastruktur, kondisi Minahasa disebut jauh dari harapan. Proyek pembangunan minim pengawasan, jalan-jalan rusak tak kunjung diperbaiki, sementara pemerintah justru sibuk menggelar acara seremonial.
“Alih-alih menyelesaikan problem mendasar, yang ditonjolkan hanya formalitas. Pemerintahan seperti ini tidak memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas,” sindirnya.
Tak hanya itu, janji pelayanan publik cepat dan transparan juga dianggap gagal. Warga masih terjebak prosedur berbelit, lambat, bahkan terkesan tidak profesional.
Baca Juga: Kadis PUPR Tersudut Skandal Proyek 2024, Miliaran Bocor, Bupati Minahasa Ancam Copot Pejabat
“Kalau tata kelola birokrasi saja tidak bisa dibenahi, bagaimana mungkin misi besar lain bisa tercapai?” tukas Liando.
Ia menegaskan, masyarakat Minahasa sudah terlalu lama menunggu hasil konkret dari kepemimpinan Robby Dondokambey.
“Minahasa butuh kerja nyata, bukan sekadar pidato dan seremoni. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, jangan salahkan jika rakyat kehilangan kepercayaan,” pungkasnya. (christian)












