EKSPOSTIMES.COM- Lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik di Timur Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah diminta menata ulang sejumlah program beranggaran besar agar memiliki ruang fiskal cukup untuk menahan potensi lonjakan subsidi energi.
Harga minyak global dilaporkan telah menembus kisaran 110 dollar AS per barel. Situasi ini dipicu eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang didukung Israel, serta ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur strategis distribusi energi dunia.
Tekanan tersebut berpotensi memperbesar beban subsidi energi dalam APBN Indonesia yang saat ini masih menggunakan asumsi harga minyak 70 dollar AS per barel.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira meminta pemerintah tidak tergesa-gesa menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Menurut dia, langkah yang lebih rasional adalah melakukan pergeseran anggaran dari sejumlah program besar.
Bhima menilai beberapa program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes), hingga proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) dapat direalokasi sebagian anggarannya untuk memperkuat ruang fiskal negara.
“Pergeseran anggaran MBG, Kopdes, dan IKN mendesak dilakukan sebagai penyangga fiskal. Opsi menaikkan harga BBM, baik subsidi maupun non-subsidi, sebaiknya dihindari karena anggaran masih bisa digeser,” kata Bhima, Senin (9/3/2026).
Berdasarkan perhitungan Celios, potensi realokasi dari sejumlah program tersebut dapat mencapai sekitar Rp 340 triliun. Dana itu dinilai cukup untuk meredam tekanan fiskal akibat melonjaknya harga energi global.
Bhima menegaskan, dalam situasi darurat seperti saat ini, menjaga stabilitas harga dan inflasi menjadi prioritas yang lebih mendesak dibanding mempertahankan belanja program tertentu.
“Menjaga inflasi lebih penting untuk saat ini karena situasinya sudah mendekati force majeure,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi memperkirakan harga minyak dunia masih berpotensi terus naik. Dua faktor utama yang memicu lonjakan harga adalah konflik di Timur Tengah dan kemungkinan Iran menutup Selat Hormuz.
Jika kedua faktor tersebut terus berlanjut, harga minyak berpeluang melonjak hingga mendekati 150 dollar AS per barel dalam waktu dekat.
“Kalau dua variabel itu tetap berlangsung, harga minyak bisa menembus 150 dollar AS per barel,” kata Fahmy.
Ia mengingatkan bahwa tekanan terhadap APBN akan semakin besar jika harga minyak jauh melampaui asumsi pemerintah. Menteri Keuangan sebelumnya menyebut APBN masih relatif aman jika harga minyak berada di kisaran 90 dollar AS per barel.
Namun dengan harga yang sudah menyentuh 110 dollar AS, beban subsidi energi berpotensi meningkat tajam.
Menurut Fahmy, pemerintah perlu segera melakukan refocusing anggaran untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Langkah menaikkan harga BBM, kata dia, sebaiknya menjadi pilihan terakhir karena berisiko memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
“Kenaikan harga BBM akan berdampak pada inflasi, daya beli turun, dan beban masyarakat kecil semakin berat. Karena itu sebelum sampai ke sana, pemerintah sebaiknya meninjau ulang program-program dengan anggaran besar,” ujar Fahmy. (dtc/christian)













