EKSPOSTIMES.COM- Harga minyak mentah global melejit tajam menyusul manuver mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengumumkan penangguhan sebagian tarif dagang secara sepihak.
Kebijakan dadakan ini langsung menyulut euforia pasar energi, yang sebelumnya tertekan oleh kecemasan resesi global dan panasnya tensi geopolitik.
Di pasar Asia, minyak mentah WTI untuk kontrak Mei naik 1,3% menjadi US$63,13 per barel pada Kamis pagi waktu Singapura. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Juni ditutup menguat 4,2% ke posisi US$65,48 per barel, mencatat kenaikan harian tertinggi sejak Oktober 2024.
Katalis utama di balik lonjakan ini adalah keputusan Trump memberikan “gencatan dagang” selama 90 hari terhadap tarif tinggi yang sempat membuat pasar global bergejolak.
Baca Juga: Pasar Minyak Bergejolak, OPEC Tambah Pasokan, Harga dan Timespread Tertekan
Langkah ini dianggap sebagai upaya meredakan suhu panas dalam konflik dagang, sekaligus membuka ruang bagi perundingan lanjutan antara AS dan mitra-mitra strategisnya.
Namun respons China justru menambah kompleksitas. Beijing menaikkan tarif balasan hingga 125% terhadap sejumlah produk AS. Langkah ini memperlihatkan bahwa ketegangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia belum benar-benar surut.
Meski rebound harga minyak terlihat mengesankan, para analis tetap mewanti-wanti potensi gejolak lanjutan. Sebelum Trump mengumumkan kebijakan ini, pasar minyak global sempat goyah akibat bayang-bayang resesi, kenaikan suku bunga, serta perlambatan ekonomi di negara berkembang.
Kebijakan OPEC+ yang mengarah pada pelonggaran kuota produksi turut memperbesar kekhawatiran soal kelebihan pasokan di tengah permintaan energi yang belum sepenuhnya pulih.
“Pasar sedang menimbang dua arus besar: kekhawatiran soal suplai berlebih dan harapan akan permintaan yang pulih jika tensi dagang mereda,” jelas Kamal Jafari, analis energi dari Standard Chartered.
Yang menarik, lonjakan harga ini terjadi di tengah naiknya stok minyak komersial AS, yang kini mencapai titik tertinggi sejak Juli 2024. Secara logika pasar, kondisi ini seharusnya menekan harga. Namun, kekuatan sentimen nyatanya mengalahkan data fundamental.
Bukan cuma minyak yang terdorong naik. Pasar saham dan obligasi global turut mencicipi sentimen positif, dengan investor mulai kembali berani melirik aset-aset berisiko. Harga komoditas lain seperti logam dan batu bara pun menunjukkan tren serupa.
Meski begitu, analis tetap memperingatkan bahwa reli ini bisa berubah arah dengan cepat.
“Volatilitas tetap tinggi. Jika langkah Trump hanya bersifat sementara atau China memperkeras sikapnya, harga bisa terkoreksi dalam sekejap,” tambah Kamal.
Bagi industri energi dan sektor-sektor terkait, situasi ini merupakan panggilan untuk tetap waspada. Perubahan kebijakan dagang AS-China bisa berdampak langsung pada rantai pasok global dan permintaan energi.
Monitoring ketat terhadap arah geopolitik dan keputusan ekonomi Washington serta Beijing kini menjadi keharusan. (tim)









