Renungan

Renungan: Alasanmu Bukan Akhir Cerita (Keluaran 6:30)

×

Renungan: Alasanmu Bukan Akhir Cerita (Keluaran 6:30)

Sebarkan artikel ini
berdiri ragu di hadapan Tuhan, menggambarkan pergulatan hati saat merasa tidak layak dipakai.
Renungan Harian: Alasanmu Bukan Akhir Cerita – Keluaran 6:30

EKSPOSTIMES.COM- Ketika Tuhan memanggil Musa untuk menjadi penyambung suara-Nya di hadapan Firaun, Musa merespons dengan keraguan: “Aku ini tidak petah lidah.” Ia merasa tidak layak, tidak cakap, dan tidak cukup pandai bicara untuk menjalankan misi besar itu.

Dalam kacamata manusia, Musa punya alasan kuat untuk menolak. Ia sadar betul akan keterbatasannya. Namun justru di sanalah letak pelajaran penting bagi kita semua: Tuhan tidak menanti manusia sempurna untuk menjalankan rencana-Nya.

Baca Juga: Renungan: Dari Budak Menjadi Umat: Identitas Baru dalam Janji Tuhan (Keluaran 6:7–9)

Saya teringat pada kisah nyata seorang pria bernama Samuel. Ia dibesarkan dalam keluarga yang sederhana, di mana pendidikan bukan prioritas. Sejak kecil, Samuel mengalami gagap yang cukup berat. Setiap kali ia diminta membaca di kelas, ia menjadi bahan ejekan.

Hal itu membuatnya menutup diri. Ia tidak percaya diri dan sering merasa Tuhan tidak mungkin memakai orang seperti dia untuk sesuatu yang besar.

Baca Juga: Renungan: Mengenal Tuhan di Tengah Dunia yang Menolak-Nya (Keluaran 5:2)

Ketika beranjak dewasa, Samuel terlibat dalam pelayanan sosial gereja. Awalnya ia hanya membantu bagian logistik membawa kursi, menyusun makanan, dan menyapu ruangan. Tapi suatu hari, pemimpin kelompok remaja di gereja melihat semangat dan ketulusan Samuel dalam melayani. Ia pun diminta membagikan kesaksian singkat dalam pertemuan kecil.

Samuel menolak. Ia berkata, “Saya gagap. Saya tidak bisa bicara di depan orang.” Tapi pemimpin itu hanya berkata, “Tuhan tidak mencari yang sempurna. Dia mencari yang mau taat.”

Baca Juga: Renungan: Dipanggil dalam Keterbatasan: Dalam Lemahku, Kuasa-Nya Nyata (Keluaran 4:10-11)

Dengan gemetar dan suara terbata-bata, Samuel akhirnya menyampaikan kesaksiannya. Tidak ada kalimat retoris, tidak ada pidato menggebu-gebu. Tapi kejujurannya menyentuh hati banyak orang. Beberapa anak remaja yang sebelumnya enggan datang ke persekutuan mulai merasa bahwa mereka pun bisa dipakai Tuhan, meski merasa tidak berharga.

Tahun demi tahun berlalu. Samuel belajar berbicara perlahan-lahan. Gagapnya tidak sepenuhnya hilang, tapi ia tidak membiarkannya menghalangi. Kini ia menjadi pembicara dalam pelayanan remaja lintas kota. Tidak karena ia hebat, tapi karena ia percaya satu hal: jika Tuhan memanggil, maka Dia juga yang akan memperlengkapi.

Baca Juga: Renungan: Dari Padang Gurun ke Hadirat Allah: Belajar dari Musa (Keluaran 3:4-5)

Apa yang dialami Musa dan Samuel menunjukkan prinsip yang sama. Tuhan sering kali memilih yang “tidak pantas” menurut standar manusia, agar kuasa-Nya nyata melalui kelemahan.

Jika Tuhan hanya memakai mereka yang sempurna, maka tidak akan ada ruang bagi anugerah-Nya untuk bekerja. Tapi saat Ia memakai orang biasa, yang lemah, tidak pandai bicara, atau merasa tidak mampu maka semua kemuliaan hanya bagi-Nya.

Renungan ini menantang kita untuk memeriksa ulang respons kita terhadap panggilan Tuhan. Sudahkah kita seperti Musa yang terlalu fokus pada kekurangan diri sendiri? Ataukah kita berani melangkah dalam ketaatan, seperti Samuel, meski dengan banyak keterbatasan?

Baca Juga: Renungan: Tuhan Memakai yang Sederhana untuk Rencana Besar Bacaan: Keluaran 2:1–10

Tuhan tidak keliru memilih Musa, dan Dia juga tidak keliru ketika menaruh beban dalam hati kita. Ia tahu siapa kita. Ia tahu kelemahan kita. Tapi Ia juga tahu kuasa-Nya cukup untuk menopang kita. Bagi Tuhan, kekurangan bukan penghalang. Ia mencari hati yang bersedia.

Jadi ketika merasa tidak cukup pandai, tidak cukup berani, atau tidak cukup berpengalaman, ingatlah: Musa pun pernah berkata hal yang sama. Tapi justru melalui Musa yang “tidak petah lidah”, Tuhan membebaskan satu bangsa dari perbudakan.

Dan melalui orang biasa seperti Samuel, Tuhan bisa menyentuh generasi. Maka, jangan menunggu sempurna untuk melangkah. Cukup taat. Tuhan akan mengerjakan sisanya. (*/rp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d