EKSPOSTIMES.COM- Kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir bukan hanya sebuah narasi sejarah. Ia adalah kisah tentang pembebasan, iman, dan kuasa Tuhan yang nyata dalam menghadapi ketidakmungkinan. Dalam Keluaran 14:30-31, kita melihat puncak dari drama penyelamatan yang menegangkan: laut telah terbelah, Israel menyeberang dengan selamat, dan musuh yang mengejar mereka—pasukan Mesir—tenggelam, tak berdaya menghadapi tangan Allah.
Peristiwa ini menjadi titik balik besar bagi bangsa Israel. Ayat 30 menekankan bahwa “pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir.” Ini bukan sekadar kemenangan militer atau kebetulan geologis. Ini adalah campur tangan ilahi.
Allah tidak hanya membebaskan umat-Nya, tetapi juga menghancurkan ancaman yang selama ini membuat mereka hidup dalam ketakutan. Mereka tidak lagi melihat orang Mesir sebagai bayang-bayang yang membuntuti mereka; mereka melihat mereka mati terhantar di pantai laut.
Baca Juga: Jalan Buntu Itu Buatan Tuhan: Saat Ketakutan Menjadi Panggung Mujizat (Keluaran 14:1–14)
Mengapa pemandangan ini begitu penting? Karena ini adalah momen ketika janji Tuhan bukan hanya terdengar di telinga, tetapi terlihat dengan mata kepala sendiri. Selama berabad-abad, Israel hidup sebagai budak, generasi demi generasi merindukan kebebasan.
Kini, mereka menyaksikan sendiri bagaimana Tuhan bertindak. Kuasa Tuhan tidak lagi hanya sesuatu yang dibicarakan dalam tradisi, tapi dialami secara langsung.
Lalu datanglah reaksi yang wajar dan sangat manusiawi: takut. Namun bukan takut yang melumpuhkan, melainkan takut yang memurnikan hati dan membawa kepada pengakuan yang benar.
“Maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu.” Takut di sini adalah pengakuan akan kebesaran dan kekudusan Tuhan, bahwa Dia adalah Allah yang tidak bisa diremehkan, Allah yang bertindak dengan kuasa dan ketetapan hati. Ini adalah ketakutan yang menuntun kepada kepercayaan.
Ada pergeseran iman yang signifikan dalam bagian ini. Sebelumnya, ketika mereka dikejar oleh Firaun dan tentaranya, bangsa Israel bersungut-sungut kepada Musa. Mereka berkata lebih baik menjadi budak di Mesir daripada mati di padang gurun.
Tapi kini, setelah menyaksikan penyelamatan yang ajaib itu, mereka mempercayai Tuhan dan Musa. Tidak lagi hanya mendengar tentang Tuhan dari Musa, tetapi sekarang mereka percaya pada Tuhan melalui pengalaman pribadi mereka sendiri.
Hal ini mengajak kita merenungkan perjalanan iman kita sendiri. Berapa banyak kali kita merasa dikejar oleh berbagai tekanan hidup—masalah ekonomi, relasi, kesehatan, atau rasa takut akan masa depan?
Seperti Israel, kita sering mudah bersungut-sungut saat jalan tampak buntu dan musuh terlalu dekat. Tapi Allah sering bekerja dalam situasi yang tampaknya tanpa jalan keluar. Laut bisa terbelah ketika kita memilih untuk tetap berjalan dalam iman.
Bacaan Firman kita kali ini, mengajarkan bahwa iman sering tumbuh melalui penglihatan akan perbuatan Tuhan. Tuhan mengerti bahwa manusia butuh tanda-tanda nyata, pengalaman pribadi yang mengakar iman bukan hanya dalam doktrin, tetapi juga dalam sejarah kehidupan mereka sendiri.
Karena itu, Ia bertindak. Ia menyelamatkan. Ia menunjukkan siapa diri-Nya—bukan sekadar untuk membuat kita takjub, tetapi untuk menumbuhkan kepercayaan yang sejati.
Namun, renungan ini juga mengingatkan bahwa iman yang bertumpu pada pengalaman harus terus dipelihara. Dalam perjalanan Israel selanjutnya, kita akan melihat bahwa sekalipun mereka telah melihat mujizat besar ini, mereka tetap bisa jatuh dalam ketidakpercayaan.
Baca Juga: Jangan Diam! Ceritakan Karya Tuhan Sebelum Terlambat (Keluaran 13:14)
Maka penting untuk tidak hanya bergantung pada pengalaman sesaat, tetapi membangun relasi yang konsisten dengan Tuhan, yang dasarnya adalah pengenalan akan siapa Dia sebenarnya.
Melalui Keluaran 14:30-31, kita diingatkan bahwa Tuhan adalah penyelamat yang setia. Ia melihat penderitaan umat-Nya, bertindak dalam kuasa, dan memanggil mereka untuk mempercayai-Nya.
Marilah kita menjadi umat yang belajar melihat tangan Tuhan dalam setiap pergumulan, dan dari situ, tumbuh dalam takut akan Dia dan percaya dengan segenap hati. (*/rizkypurukan)













