Renungan

Renungan: Dipanggil dalam Keterbatasan: Dalam Lemahku, Kuasa-Nya Nyata (Keluaran 4:10-11)

×

Renungan: Dipanggil dalam Keterbatasan: Dalam Lemahku, Kuasa-Nya Nyata (Keluaran 4:10-11)

Sebarkan artikel ini
Tangan terangkat dalam doa, menggambarkan pengharapan dan kekuatan dari Tuhan di tengah keterbatasan manusia
Keluaran 4:10-11 (TB)

EKSPOSTIMES.COM- Ketika Musa berdiri di hadapan Tuhan dalam pengalaman rohaninya di semak yang menyala, ia dihadapkan pada panggilan ilahi yang luar biasa, menjadi pemimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir.

Namun respons Musa bukanlah semangat atau keberanian, melainkan keberatan. Ia merasa tidak layak dan tidak mampu. “Aku ini tidak pandai bicara,” katanya, sebuah pengakuan yang jujur tentang kelemahannya.

Baca Juga: Renungan: Dari Padang Gurun ke Hadirat Allah: Belajar dari Musa (Keluaran 3:4-5)

Reaksi Musa mencerminkan apa yang kerap terjadi dalam diri kita. Ketika Tuhan menaruh suatu beban atau tugas dalam hati kita baik dalam pelayanan, pekerjaan, keluarga, maupun komunitas, sering kali kita lebih cepat melihat keterbatasan diri daripada melihat potensi dari kuasa Tuhan. Kita terjebak dalam narasi bahwa kekurangan adalah alasan untuk tidak melangkah. Kita lupa bahwa Tuhan tidak memilih karena kehebatan, melainkan karena ketaatan.

Tanggapan Tuhan kepada Musa sangat menohok: “Siapakah yang membuat lidah manusia?… Bukankah Aku, yakni TUHAN?” Ini bukan sekadar pertanyaan retoris. Ini adalah pernyataan kuasa.

Tuhan ingin menunjukkan bahwa semua kemampuan termasuk kemampuan berbicara, mendengar, melihat berasal dari Dia. Dengan kata lain, keterbatasan bukanlah penghalang bagi Tuhan untuk berkarya. Justru dalam keterbatasan, kuasa Tuhan dapat nyata dengan lebih sempurna.

Baca Juga: Renungan: Allah Tidak Pernah Lupa Akan Janji-Nya (Keluaran 2:24)

Kebijaksanaan rohani mengajarkan bahwa tidak ada panggilan tanpa penyertaan. Jika Tuhan yang memanggil, maka Dia juga yang akan menyanggupkan. Ini adalah prinsip utama dalam setiap perjalanan iman. Kita tidak dipanggil untuk mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi untuk bergantung sepenuhnya kepada Dia yang memberikan tugas.

Ada pepatah yang berkata, “Tuhan tidak memanggil yang mampu, tetapi memampukan yang Dia panggil.” Ini bukan sekadar kalimat motivasi, tetapi kenyataan dalam banyak kisah iman di Alkitab.

Baca Juga: Renungan: Ketika Masa Lalu Membayangi Panggilan (Keluaran 2:14)

Daud hanyalah anak bungsu gembala yang kecil dan diabaikan, namun diangkat menjadi raja. Yeremia merasa terlalu muda untuk berbicara bagi Tuhan, namun ia menjadi nabi besar. Maria hanyalah seorang gadis muda dari Nazaret, tetapi dipercaya mengandung Sang Juruselamat dunia.

Dengan melihat kembali kisah Musa, kita diajak merenungkan bagaimana kita menyikapi kelemahan diri. Apakah kelemahan itu menjadi tembok penghalang atau jendela bagi karya Tuhan? Sering kali yang perlu kita ubah bukan keadaan, tetapi cara pandang. Kelemahan bukan akhir dari kemungkinan, tetapi awal dari ketergantungan kepada Tuhan. Saat kita berhenti mencari kekuatan dalam diri dan mulai percaya kepada kuasa Tuhan, di situlah sesuatu yang luar biasa bisa terjadi.

Musa akhirnya menjadi pemimpin besar, bukan karena kefasihannya, tetapi karena penyertaaan Tuhan. Ia tetap memiliki kekurangan dalam bicara, namun Tuhan menyertainya dengan kuasa, tanda mujizat, dan juga dukungan orang lain seperti Harun. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak selalu menghilangkan kelemahan kita, tetapi Dia menyertai kita di tengah kelemahan itu dan memberi jalan untuk tetap menjalankan panggilan.

Baca Juga: Renungan: Tuhan Memakai yang Sederhana untuk Rencana Besar Bacaan: Keluaran 2:1–10

Hidup ini bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang berjalan dalam kehendak Tuhan, meski dengan langkah yang gemetar. Ketaatan lebih penting daripada kepandaian. Kesediaan untuk melangkah lebih berharga daripada kelengkapan kemampuan. Karena ketika kita melangkah dengan iman, Tuhan akan membuka jalan yang tak terduga.

Kata bijak mengatakan, “Jangan katakan ‘aku tidak bisa’, katakan ‘Tuhan, jika Engkau kehendaki, aku mau’.” Dalam keraguan Musa, Tuhan tidak menolaknya, melainkan mengingatkannya siapa yang berdaulat atas kehidupan. Maka, saat panggilan datang dan ketakutan muncul, ingatlah bahwa Tuhan tidak mencari yang sempurna, tetapi yang bersedia percaya. Sebab yang menciptakan lidah, yang memberi penglihatan, dan yang memanggil adalah Tuhan. Dia yang sanggup melakukan jauh lebih dari yang kita pikirkan atau bayangkan. (*/rp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d