EKSPOSTIMES.COM- Kitab Keluaran 2:1-10 adalah salah satu kisah paling menyentuh tentang bagaimana Tuhan bertindak dalam keheningan, tanpa suara petir atau mukjizat spektakuler, namun nyata dan penuh kuasa. Di balik kisah kelahiran Musa, kita melihat Allah bekerja secara halus tetapi pasti, melalui tangan-tangan perempuan yang dipakai-Nya untuk memelihara kehidupan seorang bayi yang akan menjadi penyelamat bagi bangsa Israel.
Pertama adalah Yokhebed, ibu Musa. Ia bukan seorang pahlawan besar yang dikenal banyak orang, bukan tokoh bangsawan ataupun nabi. Ia hanyalah seorang ibu yang dipenuhi kasih dan keberanian.
Baca Juga: Renungan: Pemimpin yang Takut Akan Tuhan, Bacaan: Keluaran 1:7–22
Dalam situasi yang sangat berbahaya karena ada perintah dari Firaun untuk membunuh semua bayi laki-laki Ibrani Yokhebed tetap melahirkan dan menyembunyikan anaknya. Ketika ia tidak bisa lagi menyembunyikan Musa, ia tidak menyerah begitu saja, tetapi membuat peti dari pandan, melapisinya dengan gala-gala dan tér, dan menaruhnya di sungai Nil. Sebuah tindakan iman yang luar biasa. Ia melepaskan Musa ke tangan Tuhan, percaya bahwa Tuhan akan bertindak.
Kedua adalah Miryam, kakak Musa. Dalam usianya yang masih muda, ia menunjukkan kecerdikan dan keberanian luar biasa. Ia berdiri dari jauh, mengamati peti itu, menjaga adiknya dari bahaya.
Baca Juga: Renungan: Air Mata Pengampunan
Ketika saatnya tiba, ia dengan sigap menawarkan solusi kepada putri Firaun: mencari seorang ibu untuk menyusui bayi itu. Ia tidak tahu bahwa tindakannya akan membuka jalan bagi ibu kandung mereka untuk kembali memelihara Musa, tetapi ketaatannya membuka pintu anugerah Allah.
Tokoh ketiga adalah putri Firaun, yang meskipun hidup dalam sistem penindasan dan kekuasaan, tetap memiliki hati yang penuh belas kasihan. Ia bisa saja mengabaikan atau bahkan memusnahkan bayi Musa sesuai kebijakan ayahnya, tetapi ia justru tersentuh oleh tangis bayi itu. Ia mengambil Musa sebagai anak angkat dan membesarkannya di istana Firaun, memberi Musa pendidikan dan perlindungan yang kelak akan mempersiapkannya memimpin umat Israel keluar dari Mesir.
Baca Juga: Renungan: Ketika Berkat Menyingkap Masa Lalu dan Menata Masa Depan, Bacaan Firman Kejadian 49:1-28
Ketiga perempuan ini, Yokhebed, Miryam, dan putri Firaun berasal dari latar belakang dan status sosial yang sangat berbeda. Namun Tuhan memakai ketiganya untuk menjalankan rencana-Nya yang besar. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita hari ini: bahwa Tuhan tidak terbatas oleh status, usia, atau kekuasaan. Ia dapat memakai siapa saja termasuk kita untuk menggenapi rencana-Nya.
Renungan ini mengajak kita merenungkan: apakah kita bersedia dipakai Tuhan? Mungkin kita merasa kecil, tak berarti, atau tak punya cukup kuasa untuk melakukan sesuatu yang besar. Namun kisah Musa membuktikan bahwa Tuhan bisa memakai kasih seorang ibu, kepedulian seorang kakak, dan belas kasihan seorang putri untuk mengubah arah sejarah. Demikian pula, Tuhan bisa memakai langkah-langkah kecil kita hari ini untuk sesuatu yang lebih besar esok hari.
Baca Juga: Renungan: Mewariskan Janji, Bukan Sekadar Harta, Bacaan Firman Kejadian 47:27 – 48:22
Seperti Maria, ibu Yesus, yang juga seorang gadis biasa dari Nazaret, dipakai untuk melahirkan Sang Juruselamat dunia, Tuhan juga memanggil kita untuk menjadi bagian dari karya penyelamatan-Nya. Tidak ada peran yang terlalu kecil dalam Kerajaan Allah. Yang Tuhan butuhkan adalah hati yang mau taat, setia, dan terbuka dipakai oleh-Nya.
Apakah kita siap menyerahkan hidup kita untuk dipakai Tuhan, seperti Yokhebed, Miryam, atau putri Firaun?
Tuhan tidak mencari yang sempurna, mencari yang mau. (*/rp)













