EKSPOSTIMES.COM- Apa perasaan Anda ketika mendapatkan promosi atau kenaikan jabatan? Tentu ada rasa syukur dan sukacita yang melimpah. Mungkin juga ada perasaan bangga karena kerja keras selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Wajar bila kemudian muncul semangat baru untuk memulai tanggung jawab tersebut dengan berbagai rencana dan visi yang besar.
Namun, sesungguhnya momen naik jabatan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar. Inilah waktu yang tepat untuk menunjukkan siapa diri kita sebenarnya dan bukan sekadar melalui kata-kata, tetapi lewat kebijakan, keputusan, dan tindakan nyata.
Kitab Keluaran memberikan pelajaran penting tentang kepemimpinan. Ketika orang Israel bertambah banyak dan menjadi kuat, muncul seorang raja baru di Mesir yang tidak mengenal Yusuf (ay. 8). Sang raja tidak melihat keberadaan orang Israel sebagai potensi untuk bangsa, melainkan sebagai ancaman. Karena ketakutan dan ambisi mempertahankan kekuasaan, ia membuat kebijakan yang kejam: menindas, memperbudak, bahkan menghilangkan nyawa generasi laki-laki Israel yang baru lahir.
Baca Juga: Renungan: Air Mata Pengampunan
Inilah contoh dari pemimpin yang tidak takut akan Tuhan. Dia membuat keputusan berdasarkan rasa takut, bukan berdasarkan kasih. Ia bertindak untuk mempertahankan kuasa, bukan untuk melayani rakyatnya. Raja Mesir memilih menindas daripada mengayomi; menghancurkan daripada membangun; memisahkan daripada bersinergi.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap jabatan dan kekuasaan adalah titipan Tuhan. Seorang pemimpin sejati tidak boleh melupakan hal ini. Kepemimpinan bukanlah alat untuk memenuhi ambisi pribadi, melainkan wadah untuk melayani dan membawa kebaikan bagi banyak orang.
Tuhan ingin para pemimpin belajar dari sejarah. Setiap keputusan memiliki konsekuensi, baik atau buruk. Itulah sebabnya mengapa hikmat sangat dibutuhkan. Dan hikmat sejati hanya datang dari Tuhan dan bukan dari kekuatan, pengalaman, atau popularitas semata.
Baca Juga: Renungan: Ketika Berkat Menyingkap Masa Lalu dan Menata Masa Depan, Bacaan Firman Kejadian 49:1-28
Pemimpin yang takut akan Tuhan akan selalu mempertimbangkan kehendak-Nya dalam setiap langkah. Ia tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Ia tidak menjadikan orang lain sebagai alat atau ancaman, tetapi sebagai mitra yang perlu diberdayakan. Ia tahu bahwa kekuatan terbesar dalam kepemimpinan adalah kasih, bukan kendali.
Mari kita renungkan: Apakah selama ini kita memimpin dengan bijaksana? Apakah kita memperlakukan sesama dengan adil? Apakah kita melihat potensi dalam diri orang lain, atau justru merasa terancam oleh kemampuan mereka?
Jika hari ini kita diberi kesempatan untuk memimpin, itu bukan karena kita hebat, tetapi karena Tuhan mempercayakan tanggung jawab itu kepada kita. Maka, gunakanlah kesempatan itu untuk menghadirkan damai, bukan ketakutan; membangun, bukan menghancurkan; dan menghidupkan, bukan mematikan. (*/rp)













