EKSPOSTIMES.COM- Keluaran 5:2 (TB): Tetapi Firaun berkata: “Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi.”
Ayat ini menjadi potret hati manusia yang congkak ketika berhadapan dengan kebenaran ilahi. Firaun, penguasa Mesir, tidak hanya menolak perintah Tuhan melalui Musa, tetapi juga menunjukkan sikap penuh kesombongan dengan bertanya, “Siapakah TUHAN itu?” Bagi Firaun, Tuhan yang tidak ia kenal tidak pantas didengar apalagi ditaati.
Baca Juga: Renungan: Dipanggil dalam Keterbatasan: Dalam Lemahku, Kuasa-Nya Nyata (Keluaran 4:10-11)
Pertanyaan ini bukan sekadar kebodohan intelektual, melainkan penolakan sengaja terhadap otoritas Allah. Firaun bukan orang tanpa informasi, ia tahu siapa bangsa Israel itu, bahkan ia sadar Musa datang membawa pesan dari Tuhan.
Namun, ia memilih untuk menyangkal, menutup telinga, dan menantang Tuhan secara terang-terangan. Inilah bentuk perlawanan batin manusia yang merasa dirinya cukup berdaulat atas hidupnya sendiri.
Baca Juga: Renungan: Dari Padang Gurun ke Hadirat Allah: Belajar dari Musa (Keluaran 3:4-5)
Menariknya, pertanyaan Firaun ini masih sangat relevan di zaman kita. Dunia modern pun sering mempertanyakan keberadaan dan otoritas Tuhan. “Siapakah Tuhan itu yang harus saya dengarkan?” mungkin tidak diucapkan dengan kata yang sama, tetapi dapat dilihat dalam berbagai bentuk penolakan terhadap nilai-nilai kekristenan dan firman Tuhan.
Banyak yang menolak kebenaran Alkitab karena tidak sesuai dengan kehendak pribadi atau arus pemikiran zaman ini. Ketika Tuhan berkata “jangan,” manusia berkata “kenapa tidak?” Ketika Tuhan memerintah untuk mengampuni, manusia memilih membalas dendam. Ketika Tuhan memanggil untuk taat, manusia menuntut kebebasan penuh atas hidupnya.
Baca Juga: Renungan: Ketika Masa Lalu Membayangi Panggilan (Keluaran 2:14)
Namun, respons Tuhan terhadap pertanyaan Firaun tidak datang dalam bentuk debat teologis atau argumen filosofis. Tuhan menjawab dengan tindakan nyata dengan serangkaian tulah yang menunjukkan kuasa-Nya atas alam, manusia, dan dewa-dewa Mesir.
Tuhan menyatakan diri-Nya bukan hanya sebagai Pribadi yang layak dikenal, tetapi juga sebagai Allah yang berkuasa dan tidak bisa diremehkan. Akhirnya, bahkan Firaun pun dipaksa untuk mengakui siapa Tuhan itu, meski dengan hati yang tetap keras.
Baca Juga: Renungan: Tuhan yang Menyertai dalam Lembah Kehidupan, Kejadian 39:1-4
Ini memberikan pelajaran besar bagi kita sebagai orang percaya. Kita tidak dipanggil hanya untuk menjawab pertanyaan dunia dengan kata-kata, tetapi juga dengan hidup yang memantulkan kuasa dan kebenaran Tuhan.
Ketika kita hidup dalam ketaatan, kasih, dan ketekunan di tengah dunia yang menolak Tuhan, kita sedang memberi jawaban atas pertanyaan Firaun versi modern. Dunia akan melihat siapa Tuhan melalui cara kita bekerja, mengasihi, dan menghadapi penderitaan.
Baca Juga: Renungan: Dilupakan Manusia, Tapi Tidak oleh Tuhan
Selain itu, kita perlu menyadari bahwa mungkin ada saat-saat dalam hidup kita sendiri ketika kita bertanya hal yang sama: “Siapakah Tuhan itu?” bukan karena kita tidak percaya, tetapi karena kita sedang bergumul dengan kehendak-Nya yang tampaknya tidak masuk akal, atau situasi yang seakan bertentangan dengan janji-Nya. Dalam kondisi itu, kita dipanggil untuk tetap percaya, tetap taat, dan menantikan bagaimana Tuhan menyatakan diri-Nya.
Firaun menolak Tuhan dan menanggung akibatnya. Namun, kita punya pilihan untuk merendahkan hati dan mengenal Tuhan dalam kebenaran-Nya. Semakin kita mengenal Tuhan, semakin kita akan mengerti bahwa Ia bukan saja Allah yang layak ditakuti karena kuasa-Nya, tetapi juga Allah yang layak dikasihi karena belas kasih-Nya. Tuhan tidak menuntut ketaatan buta, tetapi ketaatan yang lahir dari pengenalan akan siapa Dia sebenarnya.
Jadi, ketika dunia bertanya “Siapakah Tuhan itu?”, mari kita hidup dengan cara yang menunjukkan bahwa kita mengenal Dia—sang Pencipta, Penebus, dan Raja atas segala raja. (*/rp)













