Renungan

Terpujilah Tuhan: Mengingat Setiap Penyelamatan-Nya (Keluaran 18:10)

×

Terpujilah Tuhan: Mengingat Setiap Penyelamatan-Nya (Keluaran 18:10)

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi umat Israel bersyukur kepada Tuhan atas penyelamatan-Nya, terinspirasi dari Keluaran 18:10
Umat Israel bersyukur atas penyelamatan Tuhan, seperti yang diungkapkan dalam Keluaran 18:10. (Foto Ilustrasi)

EKSPOSTIMES.COM- Lalu kata Yitro: ‘Terpujilah TUHAN, yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan Firaun.’” —(Keluaran 18:10)

Ada kalanya kita terlalu sibuk melewati pergumulan, hingga lupa bahwa setiap jalan keluar yang kita terima adalah bukti nyata dari penyertaan Tuhan. Dalam Keluaran 18, Yitro—mertua Musa—melihat apa yang telah dilakukan Tuhan bagi umat Israel dan ia spontan memuji TUHAN. Bukan karena ia mengalami secara langsung penderitaan di Mesir, tetapi karena ia menyaksikan sendiri bagaimana tangan Tuhan bekerja menyelamatkan umat-Nya.

Yitro bukan orang Israel. Ia adalah imam di tanah Midian. Namun ketika ia mendengar kesaksian Musa tentang bagaimana Allah melepaskan umat-Nya dari perbudakan Mesir, hatinya tergerak untuk mengakui dan memuliakan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa karya keselamatan Tuhan tidak hanya berdampak bagi orang yang mengalami langsung, tetapi juga menjadi kesaksian yang mengubahkan orang lain.

Baca Juga: Percaya di Tengah Kekeringan (Keluaran 17:2)

Renungan ini mengajak kita bertanya: Sudahkah kita mengingat dan mengucap syukur atas setiap penyelamatan yang Tuhan lakukan dalam hidup kita? Sudahkah kita membagikan kesaksian tentang bagaimana Tuhan menyelamatkan kita dari masalah, dosa, dan kesesakan, sehingga orang lain pun turut memuliakan nama-Nya?

Pernyataan Yitro ini terjadi setelah Musa menceritakan segala hal yang Tuhan lakukan—dari tulah-tulah di Mesir, pembelahan Laut Teberau, sampai kemenangan atas Amalek. Semua itu adalah rangkaian panjang dari kuasa Tuhan yang aktif membela dan membebaskan umat-Nya. Bagi Yitro, semua itu cukup menjadi alasan untuk berkata: “Terpujilah TUHAN.”

Dalam kehidupan kita, mungkin kita tidak diselamatkan dari tentara Mesir atau dari lautan yang membelah dua. Tapi berapa banyak “laut” yang sudah Tuhan belah agar kita bisa berjalan di tanah yang kering? Berapa banyak “Firaun” dalam hidup kita—entah itu kesombongan, ketakutan, kemiskinan, kebodohan, atau dosa—yang telah dikalahkan oleh kuasa-Nya?

Terkadang kita menganggap remeh penyelamatan Tuhan karena terlalu fokus pada masalah lain yang belum selesai. Tapi hari ini, mari berhenti sejenak, dan kenang kembali segala cara Tuhan menolong kita. Mungkin saat kita merasa dunia runtuh, Tuhan hadir lewat seseorang yang menguatkan kita. Mungkin ketika kita di ambang kehancuran, Dia membuka pintu yang tak pernah kita sangka.

Satu hal menarik dalam peristiwa ini adalah bagaimana kesaksian Musa menggerakkan Yitro untuk bukan hanya memuji Tuhan, tapi kemudian juga mempersembahkan korban bakaran dan mempersembahkan pujian di hadapan Tuhan (ayat 12).

Ini mengajarkan bahwa ketika kita menceritakan perbuatan besar Tuhan dalam hidup kita, kesaksian itu punya kuasa menguatkan, menyentuh, dan bahkan membawa orang lain kepada pengenalan akan Tuhan.

Dalam dunia yang penuh berita buruk dan ketidakpastian, kesaksian tentang karya Tuhan bisa menjadi terang dan pengharapan bagi banyak orang. Jangan simpan kisah penyelamatan Tuhan hanya untuk diri sendiri.

Bagikan! Mungkin seseorang di sekitarmu sedang membutuhkan satu bukti bahwa Tuhan masih bekerja. Mungkin lewat ceritamu, seseorang akan berkata: “Terpujilah TUHAN!”

Keluaran 18:10 mengingatkan kita bahwa keselamatan dari Tuhan adalah alasan terbesar untuk memuji-Nya. Terlepas dari seberapa besar atau kecil bentuk penyelamatan itu, semuanya layak disyukuri. Jangan tunggu mujizat besar untuk bersyukur. Setiap napas, setiap pertolongan, setiap pintu yang terbuka—semua adalah bukti kasih-Nya yang setia.

Mari hari ini kita berkata seperti Yitro: “Terpujilah TUHAN, yang telah menyelamatkan aku—dari dosa, dari keputusasaan, dari kesesatan, dan dari semua jebakan hidup yang bisa menghancurkan.” Dan biarlah pujian itu tak berhenti hanya di bibir, tetapi memancar dari hidup yang bersaksi dan memuliakan nama-Nya. (*/rizkypurukan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d