EKSPOSTIMES.COM- Keluaran 2:24 mencatat bahwa “Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub.” Ayat ini menggambarkan momen yang penuh harapan bagi bangsa Israel yang saat itu berada dalam penderitaan yang panjang di tanah Mesir.
Mereka tertekan oleh perbudakan, mengalami kekerasan dan penindasan dari orang-orang Mesir, dan terus mengerang dalam kesusahan mereka. Namun, Allah tidak berpangku tangan. Ia mendengar dan, lebih dari itu, mengingat janji-Nya kepada leluhur mereka.
Baca Juga: Renungan: Ketika Masa Lalu Membayangi Panggilan (Keluaran 2:14)
Penting untuk memahami mengapa Allah “mengingat” perjanjian-Nya. Bukan karena Allah lupa atau tidak tahu apa yang terjadi, melainkan sebagai bentuk dari komitmen-Nya yang tak berubah terhadap umat-Nya. Janji Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub adalah janji yang melampaui zaman, yang tetap relevan meskipun umat Israel saat itu tidak lagi berada dalam kondisi yang baik. Ketika Allah “mengingat” perjanjian-Nya, itu bukan sekadar pengingat, tetapi tindakan Tuhan untuk menggenapi janji-Nya, menunjukkan bahwa Dia tetap setia pada umat-Nya.
Bagi kita, pengertian tentang Allah yang mengingat perjanjian-Nya ini memberikan harapan yang besar. Terkadang kita merasa seolah Tuhan tidak memperhatikan kesusahan kita atau mungkin Dia lupa akan doa-doa kita. Kita mengerang dalam kesulitan, bertanya-tanya mengapa Tuhan belum bertindak sesuai dengan yang kita harapkan. Namun, seperti yang ditunjukkan dalam Kisah Keluaran, Allah tidak pernah lupa akan janji-Nya. Ia mendengarkan jeritan umat-Nya, dan saat-Nya tiba, Dia akan memenuhi janji-Nya dengan cara yang paling tepat.
Baca Juga: Renungan: Tuhan Memakai yang Sederhana untuk Rencana Besar Bacaan: Keluaran 2:1–10
Perjanjian yang dimaksud dalam Keluaran 2:24 adalah perjanjian yang dimulai dengan Abraham, di mana Allah berjanji untuk memberkati keturunan Abraham dan menjadikan mereka suatu bangsa yang besar. Meskipun bangsa Israel pada waktu itu berada dalam penindasan, Allah sudah berkomitmen untuk membebaskan mereka. Bagi Allah, perjanjian bukanlah sekadar kata-kata yang diucapkan, tetapi sebuah komitmen yang harus dipenuhi, terlepas dari keadaan yang dihadapi umat-Nya.
Sama halnya dengan kita hari ini, kita juga hidup dalam dunia yang penuh tantangan, kesulitan, dan penderitaan. Namun, kita bisa percaya bahwa Allah yang setia pada janji-Nya kepada bangsa Israel juga setia pada janji-Nya kepada kita.
Baca Juga: Renungan: Pemimpin yang Takut Akan Tuhan, Bacaan: Keluaran 1:7–22
Mungkin saat ini kita belum melihat penggenapan janji-Nya, tetapi seperti Allah yang mendengar dan mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Dia juga mendengar dan memperhatikan kita. Ketika waktu-Nya tiba, Tuhan akan bertindak dengan cara yang paling baik dan paling sesuai dengan rencana-Nya yang sempurna.
Sebagai umat Allah, kita dipanggil untuk tetap berharap dan percaya, bahkan dalam masa-masa sulit. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Setiap penderitaan, kesulitan, dan pergumulan kita adalah bagian dari perjalanan yang mengarah kepada pemenuhan janji Allah yang besar dan mulia. Maka, kita dapat bersandar pada janji-Nya dengan keyakinan bahwa Dia yang setia akan menyelesaikan segala sesuatu dengan cara-Nya yang indah pada waktunya. (tim)













