EKSPOSTIMES.COM- Di balik ketegasan dan ketajaman pikirannya sebagai pakar hukum ternama Indonesia, Prof. Dr. Suhandi Cahaya, SH, MH, MBA menjalani hidup dengan prinsip ketulusan dalam melayani. Ia dikenal luas sebagai advokat senior, kurator, mediator, dan dosen yang membaktikan hidupnya bukan hanya untuk menegakkan hukum, tetapi juga untuk memuliakan Tuhan melalui pelayanan tanpa pamrih.
Selama lebih dari 20 tahun, Prof. Suhandi mengabdikan diri sebagai pelayan gereja Methodis dan pengajar di berbagai Sekolah Tinggi Teologi seperti STT IKAT, STT REM, dan ST Filadelfia. Dalam seluruh pelayanannya, baik sebagai pengajar maupun pemberi kotbah, ia tak pernah menerima bayaran.
“Saya tidak pernah mengharapkan imbalan. Melayani Tuhan adalah sukacita terbesar saya,” ujarnya dalam wawancara eksklusif, Rabu (23/7/2025).
Ketekunan dan kerendahan hati Prof. Suhandi berbanding lurus dengan reputasinya di dunia hukum. Ia kerap hadir sebagai saksi ahli dalam perkara besar yang menyangkut ketidakadilan dan pelanggaran hukum. Dengan sudut pandang akademis, ia memberikan kontribusi nyata dalam mengawal tegaknya keadilan.
Namun, perjalanan spiritual pria yang kini menjadi salah satu advokat papan atas di Jakarta ini bukan tanpa ujian. Dalam kesaksiannya, Prof. Suhandi mengaku pernah meninggalkan imannya karena tekanan hidup dan kemiskinan.
“Saya pernah sampai mematahkan salib dan menyalahkan Tuhan. Saya merasa doa-doa saya tidak dijawab,” kenangnya.
Titik balik terjadi saat ia mengalami pengalaman spiritual yang mengubah total pandangannya tentang iman. Ia mengaku melihat Yesus secara nyata dan bersujud memohon ampun. Sejak saat itu, seluruh arah hidupnya berubah.
“Tuhan hadir nyata dalam hidup saya. Sejak itu saya berkomitmen untuk menggunakan setiap berkat, termasuk uang, untuk membantu sesama dan melayani Tuhan,” ungkapnya.
Kini, Prof. Suhandi tidak hanya aktif dalam profesinya sebagai konsultan hukum dan pengajar, tetapi juga giat dalam pelayanan sosial. Ia menggunakan sebagian besar hartanya untuk membantu orang miskin dan menopang pelayanan gereja. Prinsipnya sederhana: “Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang menghitung setiap perbuatan baik kita.”
Mengutip Amsal 9:10 dan Ayub 1:21 sebagai pegangan hidup, Prof. Suhandi menegaskan bahwa takut akan Tuhan adalah awal dari segala hikmat. Baginya, hidup harus menjadi terang, meski harus rela hancur seperti lilin yang menerangi orang lain.
“Jabatan dan kekayaan bukan segalanya. Yang penting, hidup ini memberi arti untuk sesama,” tegas ayah tiga anak ini.
Di tengah maraknya pelayanan yang bersyarat dan relasi sosial yang makin elitis, Prof. Suhandi memberi teladan yang langka: pelayanan murni tanpa pamrih. Ia mengkritik keras fenomena pejabat maupun tokoh yang enggan melayani dan justru minta dilayani.
“Banyak orang Kristen sekarang hanya mau berteman dengan yang kaya. Mereka kehilangan kasih. Pejabat pun banyak yang enggan melayani. Ini ironi yang menyedihkan,” katanya.
Kesaksian hidup Prof. Suhandi adalah refleksi dari perjalanan rohani yang jatuh, bangkit, dan kini bersinar terang. Ia menunjukkan bahwa dalam dunia hukum yang keras dan penuh kepentingan, masih ada ruang untuk ketulusan, iman, dan kasih.
“Sisa hidup saya hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Saya yakin, pertolongan-Nya tidak pernah terlambat,” pungkasnya. (lian)












