Peristiwa

Hanya Tuhan yang Tak Bisa Disogok” Filosofi Hidup Prof. Suhandi Cahaya di Balik 82 Buku Karyanya

×

Hanya Tuhan yang Tak Bisa Disogok” Filosofi Hidup Prof. Suhandi Cahaya di Balik 82 Buku Karyanya

Sebarkan artikel ini
Prof. Suhandi Cahaya ungkap filosofi hidupnya saat menorehkan 82 karya buku, menekankan integritas dan keteguhan iman.

EKSPOSTIMES.COM – Di balik sosoknya yang dikenal sebagai profesor hukum sekaligus advokat papan atas, Prof. Dr. Suhandi Cahaya, SH, MH, MBA menyimpan kegigihan yang jarang dimiliki banyak orang: semangat menulis dan membaca yang tak pernah padam. Selama dua dekade menapaki karier akademis dan profesinya sebagai pengacara, pria kelahiran Palembang, 22 Juli 1954 ini telah menelurkan 82 buku ilmiah yang mayoritas mengupas hukum dan problematika sosial bangsa.

“Bagi saya, menulis buku itu kepuasan. Ilmuwan tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi dari berapa banyak buku yang ia hasilkan,” ujar Suhandi di ruang kerjanya yang dipenuhi ribuan buku, Selasa (9/9).

Rutinitas membaca setidaknya 40 halaman setiap hari menjadi rahasia produktivitasnya. Dari kebiasaan itu lahirlah puluhan artikel di berbagai media hingga karya monumental berupa buku. Menurutnya, setiap judul yang ditulis lahir dari inspirasi yang tak pernah kering.

“Judul menentukan kualitas. Maka untuk menemukan judul yang tepat, saya harus banyak membaca dan memahami situasi,” jelasnya.

Ke-82 buku yang telah diterbitkan, sebagian bahkan ditulis dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan Inggris. Isinya beragam dari teori hukum, kriminologi, asas penyelenggaraan negara, hingga kumpulan artikel soal tindak pidana korupsi.

“Saya menulis bukan untuk menyerang siapa pun, tapi murni untuk hukum,” tegasnya.

Namun perjalanan menghasilkan buku bukan tanpa kendala. Proses penulisan satu buku bisa memakan waktu 3–4 bulan. Dalam menghadapi kebuntuan, Suhandi mengaku selalu meminta pertolongan kepada Tuhan.

“Hanya Tuhan yang tidak bisa disogok, sementara manusia bisa,” ungkapnya lugas.

Kecintaannya pada dunia literasi membuat Suhandi prihatin melihat rendahnya minat baca di Indonesia. Menurutnya, angka minat baca tak sampai 1 persen, kondisi yang sangat memprihatinkan. Karena itu, ia berpesan kepada generasi muda untuk membiasakan diri membaca.

“Jangan pernah merasa hebat jika tidak pernah baca buku,” pesannya.

Meski kini telah sukses sebagai pengacara dengan nama besar dan kekayaan yang mumpuni, Suhandi tetap menempatkan ilmu sebagai warisan paling berharga. Bagi dirinya, buku adalah cermin kepribadian dan rekam jejak pemikiran.

“Kalau mau tahu saya, bacalah karya saya. Dari situ akan terlihat siapa diri saya sesungguhnya,” katanya menutup perbincangan.

Dengan kerendahan hati, ia menegaskan “Sebagai ilmuwan dan profesor, wajib hukumnya menulis buku. Itu kepuasan yang tak bisa dibeli dengan uang.” (Lian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d