Ekonomi & Bisnis

Rupiah Bangkit! Sentimen Global Berubah, Mata Uang Garuda Menguat ke Rp16.500-an

×

Rupiah Bangkit! Sentimen Global Berubah, Mata Uang Garuda Menguat ke Rp16.500-an

Sebarkan artikel ini
Grafik nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan tren penguatan ke level Rp16.500-an.
Ilusrasi

EKSPOSTIMES.COM- Nilai tukar rupiah akhirnya menunjukkan taringnya di penghujung perdagangan hari ini. Setelah sempat melemah di sesi pagi, rupiah berbalik arah dan menguat ke level Rp16.500-an per USD.

Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (26/3/2025), rupiah ditutup di angka Rp16.587 per USD, menguat 25 poin atau 0,14% dibandingkan sehari sebelumnya.

Sementara itu, Yahoo Finance mencatat pergerakan serupa dengan rupiah naik 14 poin ke Rp16.575 per USD. Di sisi lain, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga melaporkan penguatan ke Rp16.588 per USD.

Sementara rupiah menguat, indeks dolar AS (DXY) justru mengalami volatilitas. Mata uang Negeri Paman Sam bergerak dalam rentang ketat di level 104-an, berusaha mempertahankan kenaikan setelah sebelumnya sempat menguji level lebih tinggi.

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Ancaman Rekor Terlemah dalam Sejarah Kian Nyata

Dolar AS sebelumnya mendapat dorongan dari data aktivitas jasa yang kuat serta kebijakan perdagangan yang lebih terarah dari Presiden AS Donald Trump. Namun, pernyataan terbaru Trump mengenai kemungkinan pengecualian tarif untuk beberapa negara membuat pasar kembali berhitung ulang.

Menanggapi dinamika ini, pemerintah Indonesia memastikan akan terus memantau pergerakan rupiah tanpa terburu-buru mengambil kebijakan reaktif.

“Kita selalu monitor, bukan hanya harian,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta. Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan Bank Indonesia (BI) akan memainkan perannya dalam menjaga stabilitas rupiah.

Bank Indonesia sendiri menilai tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu oleh ketidakpastian global, terutama setelah Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS dengan kebijakan proteksionismenya.

Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Fitra Jusdiman, menyebut bahwa kebijakan tarif tinggi, potensi sikap agresif (hawkish) The Federal Reserve, serta gejolak politik AS menjadi faktor utama pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Namun, BI tak tinggal diam. Otoritas moneter telah menyiapkan strategi stabilisasi melalui triple intervention, yakni transaksi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pembelian surat berharga negara (SBN).

“Kami akan bertindak tegas dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta kepercayaan pasar,” tegas Fitra.

Dengan dinamika global yang masih bergerak cepat, pelaku pasar kini mencermati langkah-langkah selanjutnya dari BI dan pemerintah dalam menjaga keseimbangan rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d