EKSPOSTIMES.COM- Perang dagang global memasuki fase kritis. Setelah Tiongkok mengumumkan tarif balasan sebesar 34% atas seluruh impor dari Amerika Serikat, pasar keuangan dunia langsung diguncang. Rupiah terpukul keras, indeks saham global rontok, dan investor berhamburan meninggalkan aset berisiko.
Langkah agresif Beijing ini dianggap sebagai reaksi keras terhadap kebijakan tarif proteksionis pemerintahan Presiden Donald Trump. Konflik dagang dua raksasa ekonomi ini kini telah menjelma menjadi ketegangan sistemik yang mencemaskan seluruh pelaku pasar.
Mengacu data realtime Bloomberg per Jumat malam (5/4), kontrak Non-Deliverable Forward (NDF) rupiah anjlok menembus level Rp17.012/US$ pada pukul 21:07 WIB, turun 1,63% dari posisi sebelumnya. Level ini merupakan yang terburuk dalam beberapa bulan terakhir, menjadi sinyal bahaya bagi nilai tukar rupiah ketika pasar domestik kembali dibuka pasca libur panjang Lebaran.
Sebagai catatan, kontrak NDF kerap menjadi indikator awal arah gerak rupiah di pasar spot karena merefleksikan sentimen global terhadap Indonesia saat pasar lokal masih tutup.
Di tengah kekacauan ini, indeks dolar AS menguat ke 102,16, mempertegas dominasi greenback sebagai safe haven. Imbasnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, real Brasil, hingga peso Meksiko, kompak melemah.
Baca Juga: China Balas Tarif AS, Perang Dagang Memanas Lagi
Bursa saham Eropa tak luput dari badai. Indeks di Italia tumbang lebih dari 7%, disusul kejatuhan bursa Jerman, Prancis, dan Inggris yang turun lebih dari 3%. Di Wall Street, indeks S&P 500 dibuka melemah 2,5% dan Nasdaq ambles 2,7%, seiring rontoknya saham teknologi seperti Nvidia, Tesla, Apple, Alibaba, hingga Baidu.
Gelombang kepanikan mendorong dana global lari ke aset aman. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (UST-10Y) turun tajam ke 3,944%, sementara tenor 2 tahun menyentuh 3,576%. Indeks volatilitas VIX mendekati angka 40, menandakan ketegangan tinggi di pasar keuangan.
Sementara itu, data Non-Farm Payrolls (NFP) AS mencatatkan tambahan 228.000 pekerjaan sepanjang Maret, jauh di atas ekspektasi. Meski begitu, tingkat pengangguran justru naik ke 4,2%, memunculkan tanda tanya besar soal prospek ekonomi ke depan.
“Data pekerjaan yang solid tak cukup untuk meredam kekhawatiran resesi. Pasar lebih fokus pada risiko ke depan, bukan masa lalu,” ujar Scott Ladner dari Horizons Investments, dikutip Bloomberg.
Menurut laporan resmi Xinhua, Tiongkok akan memberlakukan tarif balasan per 10 April terhadap semua produk asal AS. Tak hanya itu, Beijing juga membuka investigasi terhadap impor tabung CT scan medis dari AS dan India, serta melarang impor produk unggas dari dua perusahaan AS.
Menanggapi itu, Trump bereaksi keras di media sosialnya.
“China bermain dengan panik. Mereka salah langkah,” tulis Trump, sembari menegaskan tarif AS tetap diberlakukan.
Trump juga menggembar-gemborkan laporan pekerjaan AS sebagai luar biasa dan menyebut ini waktu terbaik untuk menjadi kaya di Amerika. (blo/tim)













