Ekonomi & Bisnis

Rupiah Tumbang Usai Libur Lebaran, Sentimen Global dan Aksi Jual Picu Tekanan

×

Rupiah Tumbang Usai Libur Lebaran, Sentimen Global dan Aksi Jual Picu Tekanan

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada 8 April 2025 menunjukkan pelemahan signifikan pasca-Lebaran.
Rupiah Anjlok Tajam ke Rp16.860 per Dolar AS (Foto Ilustrasi)

EKSPOSTIMES.COM — Rupiah dibuka melemah tajam pada hari pertama perdagangan setelah libur panjang Lebaran, di tengah tekanan besar dari pasar global dan aksi jual masif di pasar saham domestik yang membuat perdagangan dihentikan sementara pada Selasa pagi (8/4/2025).

Mengacu data real-time Bloomberg, rupiah dibuka melemah 1,72% ke level Rp16.845 per dolar AS, menjadikannya mata uang Asia dengan depresiasi terdalam pagi ini. Selang beberapa menit kemudian, rupiah semakin tertekan ke posisi Rp16.860/US$ pada pukul 09.11 WIB, mencerminkan pelemahan 1,84%.

Secara teknikal, level support penting sudah ditembus. Rupiah kini berpotensi mengarah ke Rp17.000 per dolar AS, sejalan dengan nilai tukar di pasar offshore yang lebih dulu menunjukkan tekanan selama periode libur pasar Indonesia.

Pelemahan rupiah menjadi yang paling signifikan di kawasan Asia untuk perdagangan hari ini. Bila dihitung hanya pada 8 April, rupiah mengalami depresiasi sebesar 1,77%, disusul baht Thailand (1,11%), yuan Tiongkok (0,18%), ringgit Malaysia (0,08%), serta dolar Hong Kong dan yuan offshore masing-masing melemah 0,04% dan 0,03%.

Baca Juga: Pernyataan Mendag AS Guncang Pasar, Rupiah Terjun ke Rp16.822 per Dolar AS

Sebaliknya, beberapa mata uang Asia mencatat penguatan, seperti yen Jepang (0,3%), peso Filipina (0,29%), dolar Singapura (0,29%), dolar Taiwan (0,15%), dan won Korea Selatan (0,13%).

Namun, jika periode pelemahan diperluas sejak libur pasar Indonesia pada 27 Maret hingga pagi ini, rupiah mencatatkan penurunan sebesar 1,78%, menjadi mata uang dengan depresiasi terdalam kedua setelah baht yang melemah hingga 1,86%.

Melemahnya rupiah sudah diprediksi sebelumnya. Bank Indonesia (BI) telah menegaskan akan melakukan intervensi agresif di pasar valas sejak awal pembukaan pasar demi menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah ini ditempuh guna menahan volatilitas lebih lanjut di tengah tekanan global dan domestik.

Kondisi pasar domestik pun ikut menambah beban. Pada pembukaan hari ini, IHSG langsung merosot hingga 9,2% dan memicu trading halt selama 30 menit. Di pasar surat utang, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak 17 basis poin ke level 7,174%, mencerminkan tekanan jual signifikan dari investor.

Depresiasi rupiah tak lepas dari meningkatnya ketegangan global, terutama setelah Presiden AS Donald Trump mengancam kenaikan tarif tambahan sebesar 50% terhadap barang-barang dari Tiongkok. Ancaman ini datang setelah China mengumumkan balasan berupa tarif 34% terhadap produk-produk asal AS.

Sikap Trump yang tidak konsisten dan sering berubah-ubah lewat unggahan media sosial menambah ketidakpastian. Pasar global bereaksi keras, dengan lonjakan volatilitas di pasar saham dan obligasi. Yield Treasury AS tenor 10 tahun yang sempat turun ke bawah 4% kini kembali melonjak ke 4,180%, naik 18,3 bps hanya dalam waktu singkat.

Meskipun pelemahan rupiah menimbulkan kekhawatiran, beberapa analis melihat sisi positifnya. Kepala Riset Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, menyebut depresiasi rupiah dapat menjadi hedging alami terhadap tarif perdagangan yang diberlakukan AS. Menurutnya, mata uang yang terdepresiasi membuat produk ekspor Indonesia lebih kompetitif di pasar global.

“Dengan rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS, ini menjadi momentum untuk meningkatkan ekspor manufaktur serta menarik minat investor asing di pasar saham dan obligasi,” ujar Satria.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa depresiasi ini harus dikendalikan agar tidak berdampak lebih luas pada inflasi dan stabilitas makroekonomi nasional.

Pasar kini menanti langkah lanjutan dari Bank Indonesia dan pemerintah untuk menstabilkan situasi. Di sisi global, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve yang diprediksi akan memangkas suku bunga lebih cepat tahun ini guna meredam risiko perlambatan ekonomi AS.

Stabilitas pasar domestik pada hari-hari ke depan akan sangat bergantung pada respons cepat dari otoritas fiskal dan moneter. Jika tidak segera diatasi, tekanan ganda dari pasar saham dan pasar valas bisa berlanjut, mengganggu pemulihan ekonomi pasca-Lebaran. (Blo/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d