EKSPOSTIMES.COM- Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS, mencerminkan tekanan yang masih membayangi mata uang Asia di tengah dominasi greenback.
Meski pelemahannya relatif terbatas, rupiah kini menghadapi ancaman serius menuju rekor terendah sepanjang sejarah.
Pada pembukaan perdagangan pagi ini, rupiah spot melemah 0,06% ke level Rp16.605/US$, menjadikannya mata uang dengan depresiasi terdalam ketiga di Asia, setelah yen Jepang (-0,11%) dan won Korea Selatan (-0,06%). Hingga pukul 09:10 WIB, rupiah turun lebih lanjut ke Rp16.608/US$ (-0,08%).
Di belakang rupiah, mata uang regional lain juga melemah: dolar Singapura (-0,05%), yuan (-0,05%), peso (-0,03%), dan yuan offshore (-0,02%). Sementara itu, ringgit Malaysia dan baht Thailand justru menguat masing-masing 0,28% dan 0,27%.
Baca Juga: Rupiah Tersungkur ke Rp16.620/US$, Terlemah Sejak Krisis 1998
Secara teknikal, rupiah berpotensi melemah lebih dalam menuju Rp16.650/US$, dengan target berikutnya di Rp16.680/US$. Jika tekanan jual semakin besar, rupiah bahkan bisa merosot hingga Rp16.700/US$ – Rp16.800/US$, yang menjadi level support terkuatnya.
Sebaliknya, jika rupiah mengalami koreksi menguat, titik resistance utama yang perlu diperhatikan berada di Rp16.550/US$ – Rp16.500/US$.
Namun, para analis global menilai potensi pelemahan rupiah belum berakhir. Mizuho Bank Ltd dan MUFG Bank Ltd, yang dikutip Bloomberg, memperkirakan rupiah bisa menembus Rp16.950/US$, level yang terakhir kali tercatat saat krisis moneter 1998.
Meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Sentimen pasar terguncang oleh rencana belanja populis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang dianggap dapat memperbesar risiko fiskal negara.
Selain itu, rencana perluasan mandat Bank Indonesia juga menjadi perhatian. Pelaku pasar khawatir langkah ini dapat mengganggu independensi bank sentral, yang selama ini menjadi pilar utama stabilitas moneter Indonesia.
“Pasar semakin cemas dengan meningkatnya risiko fiskal di Indonesia, terutama karena program sosial yang agresif dari pemerintahan baru,” ujar Lloyd Chan, FX Strategist di MUFG.
Lebih buruk lagi, jika Presiden Donald Trump benar-benar menerapkan kebijakan tarif baru pada awal April, rupiah bisa semakin terpuruk hingga Rp17.000/US$, skenario yang kini mulai dipertimbangkan oleh banyak investor global.
Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pelaku pasar kini menunggu respons dari otoritas moneter dan fiskal untuk menahan laju pelemahan rupiah. (tim)













