Ekonomi & Bisnis

Rupiah Tersungkur ke Rp16.620/US$, Terlemah Sejak Krisis 1998

×

Rupiah Tersungkur ke Rp16.620/US$, Terlemah Sejak Krisis 1998

Sebarkan artikel ini
Rupiah melemah tajam ke Rp16.620 per dolar AS, level terendah sejak krisis 1998.
Ilustrasi

EKSPOSTIMES.COM- Rupiah kembali tertekan dalam perdagangan Selasa (25/3/2025), mencatat pelemahan signifikan di tengah tekanan pasar obligasi yang masih berlangsung.

Dibuka melemah 0,32% ke Rp16.608/US$, rupiah terus tergelincir hingga menembus Rp16.620/US$ pada pukul 09.10 WIB, atau turun 0,39%. Ini menjadi level terlemah sejak krisis moneter 1998.

Pelemahan ini menjadikan rupiah sebagai mata uang Asia dengan performa terburuk kedua setelah baht Thailand yang turun 0,52%.

Baca Juga: Polri Bongkar Jaringan Perdagangan Orang ke Bahrain, Pelaku Raup Ratusan Juta Rupiah

Sementara itu, mata uang lain seperti ringgit Malaysia, won Korea Selatan, dan yuan offshore juga mengalami pelemahan, dengan hanya yen Jepang yang mampu menguat tipis 0,05%.

Tekanan terhadap rupiah sejalan dengan penguatan indeks dolar AS yang didorong oleh pernyataan hawkish dari Federal Reserve. Gubernur The Fed Atlanta, Raphael Bostic, mengindikasikan bahwa pemangkasan suku bunga tahun ini mungkin hanya terjadi satu kali, lebih sedikit dari ekspektasi sebelumnya.

“Saya beralih ke satu kali pemangkasan karena inflasi masih tidak stabil dan belum menunjukkan penurunan yang jelas ke target 2%,” ujar Bostic dalam wawancara dengan Bloomberg TV.

Kebijakan proteksionisme Presiden AS Donald Trump juga menambah ketidakpastian di pasar. Peningkatan tarif impor yang diumumkan Trump diperkirakan akan menghambat tren disinflasi AS, sehingga The Fed cenderung menunda pemotongan suku bunga lebih lanjut.

Selain tekanan dari dolar AS, pelemahan rupiah juga diperburuk oleh gelombang aksi jual di pasar obligasi. Yield surat utang negara (SUN) naik di hampir semua tenor, dengan SUN 10 tahun mencapai 7,192%.

Secara teknikal, rupiah telah menembus level support krusial di Rp16.600/US$, membuka peluang pelemahan lebih lanjut ke Rp16.700/US$ dalam waktu dekat. Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah untuk kontrak satu bulan bahkan sudah diperdagangkan di level Rp16.667/US$.

Meskipun indeks saham AS menguat akibat sentimen tarif yang lebih fleksibel dari Trump, dampaknya belum cukup untuk menopang rupiah. Pasar kini mencermati arah kebijakan The Fed dan dampaknya terhadap pasar keuangan global.

Dengan sinyal hawkish The Fed dan ketidakpastian ekonomi AS, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut. Investor kini menanti langkah Bank Indonesia dalam merespons situasi ini, apakah dengan intervensi di pasar valas atau kebijakan moneter yang lebih agresif untuk menjaga stabilitas rupiah. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d