EKSPOSTIMES.COM- Rupiah terpuruk. Pekan pertama usai libur Lebaran justru menjadi periode paling berdarah bagi mata uang Garuda sejak akhir Februari 2024. Di tengah gejolak pasar global dan eksodus investor asing, nilai tukar rupiah tak kuasa menahan gempuran tekanan eksternal.
Pada perdagangan Jumat (11/4), rupiah spot hanya mampu menguat tipis 0,03% di level Rp16.795 per dolar AS. Namun secara mingguan, rupiah anjlok 1,4%, terburuk di Asia pekan ini, melampaui pelemahan yuan dan rupee.
Pelemahan signifikan ini diperparah oleh tekanan tajam di perdagangan intraday 9 April, saat rupiah menyentuh rekor terlemahnya sepanjang sejarah: Rp16.957 per dolar AS. Rata-rata harian sepanjang pekan pun tinggi, bertengger di kisaran Rp16.831.
Bank Indonesia tak tinggal diam. Di pasar non-deliverable forward (NDF), rupiah sempat terjun bebas hingga menembus Rp17.350 per dolar AS. Intervensi agresif segera dilakukan: pembelian valuta asing dan penaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) demi menyuntikkan stabilitas.
Baca Juga: Rupiah Tancap Gas ke Rp16.790, Pasar Sambut Euforia Penundaan Tarif Trump, Sentimen Global Positif
Langkah ini krusial karena tekanan terhadap rupiah bersumber dari kombinasi maut: perang dagang baru yang dipicu kebijakan Presiden AS Donald Trump, menerapkan tarif hingga 145% terhadap produk China, dan panic selling yang menghantui pasar saham global. Indeks volatilitas (VIX) melonjak ke 21, mencerminkan ketakutan pasar yang makin memuncak.
Yang ironis, pelemahan rupiah terjadi saat mayoritas mata uang Asia justru mencatat penguatan. Yen Jepang melesat hampir 3%, disusul dolar Singapura (+1,9%), baht Thailand (+1,76%), won Korea (+1,58%), dan dolar Taiwan (+1,29%).
Indeks dolar AS justru sedang melemah tajam, jatuh ke bawah level psikologis 100, terendah dalam enam bulan. Namun efek domino dari libur panjang Lebaran dan lemahnya respons domestik membuat rupiah gagal mengikuti tren regional.
Pasar saham pun tak luput dari tekanan. Meski sempat rebound 0,5% pada Jumat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap turun 3,5% secara mingguan. Investor asing membukukan net sell jumbo: lebih dari Rp5 triliun dalam tiga hari saja.
Di pasar obligasi, tekanan tak kalah hebat. Yield SBN melonjak tajam. Tenor 2 tahun naik ke 6,840%, tenor 5 tahun ke 6,877%, dan acuan 10 tahun tembus 7,065%. Lonjakan ini mencerminkan tekanan jual yang belum mereda, bahkan setelah lonjakan IHSG 5% pada Kamis.
Namun dana asing tetap keluar: Rp751,4 miliar net sell pada Kamis, Rp1,09 triliun sehari sebelumnya, dan Rp4 triliun langsung saat pembukaan pasar pasca-Lebaran.
Secara teknikal, rupiah masih terjebak dalam fase konsolidasi di kisaran Rp16.700–Rp16.750. Penguatan hanya mungkin terjadi bila menembus resistance di Rp16.600, dengan peluang menuju Rp16.500. Namun ketidakpastian global dan aksi jual investor asing bisa kembali menyeret rupiah mendekati zona rawan.
“Pasar masih trauma. Belum ada katalis positif kuat dari dalam negeri. Sentimen global terlalu dominan saat ini,” ujar seorang analis valas senior yang enggan disebutkan namanya.
Di tengah kondisi penuh ketidakpastian ini, kredibilitas Bank Indonesia sebagai stabilisator moneter kembali diuji. Intervensi yang cepat dan efektif akan jadi penentu apakah kepercayaan investor bisa kembali pulih atau justru terus menurun. (riz)












