EKSPOSTIMES.COM – Abraham adalah teladan iman yang tak lekang oleh waktu.Dalam perjalanannya, kita melihat bagaimana imannya kepada janji Allah membuatnya dibenarkan, bukan karena usaha atau jasa moralnya, tetapi karena penerimaan penuh atas anugerah keselamatan yang Allah berikan.
Dari hidupnya, kita belajar bahwa iman yang sejati selalu diikuti dengan ketaatan.
Namun, di balik kebesaran imannya, Abraham juga manusia biasa yang tidak luput dari kelemahan. Keputusannya mengambil Hagar sebagai istri kedua untuk mendapatkan keturunan menunjukkan bahwa meskipun percaya kepada Allah, ia tetap mengalami pergumulan dalam menantikan penggenapan janji-Nya.
Baca Juga: Renungan: Allah yang Setia dan Janji-Nya yang Digenapi, Kejadian 21:1-7
Keputusan ini berbuah panjang, menimbulkan konflik yang bertahan lintas generasi. Setelah Sara meninggal, ia menikahi Ketura, yang kemudian melahirkan banyak keturunan, di antaranya Midian dan Asyur, yang kelak menjadi bangsa-bangsa yang sering berbenturan dengan umat Israel.
Meski demikian, Abraham mengakhiri hidupnya dalam kemuliaan. Ia memastikan warisan perjanjian tetap pada Ishak, anak yang dijanjikan Allah, sambil tetap memberikan bagian bagi anak-anak lainnya.
Ia meninggal pada usia 175 tahun, dalam kepenuhan umur dan kelimpahan hidup, bukan karena penyakit, tetapi karena “menyerahkan nyawanya”—sebuah kematian yang menunjukkan bahwa ia pergi dengan damai untuk bertemu dengan Sang Pemberi Hidup.
Kisah Abraham mengajarkan kita bahwa iman bukanlah perjalanan yang selalu mulus, tetapi tentang bagaimana kita tetap berpegang pada janji Allah di tengah kegagalan dan kelemahan.
Hidup yang benar bukan sekadar tentang panjang umur, tetapi tentang bagaimana kita menjalaninya dengan kesetiaan, ketaatan, dan ketergantungan kepada Allah.
Semoga kita meneladani iman Abraham, tetap berpegang pada janji-Nya, dan mengakhiri hidup dengan penuh kemuliaan, siap bertemu dengan Tuhan yang memberi hidup. (*)








