EKSPOSTIMES.COM – Seorang ayah dan anak laki-lakinya mendaki gunung untuk berkemah. Sepanjang perjalanan, sang anak bertanya, “Ayah, mengapa kita harus mendaki sejauh ini? Mengapa tidak berkemah di bawah saja?”
Sang ayah tersenyum dan menjawab, “Percayalah, Nak, Ayah tahu tempat terbaik untuk kita.”
Setelah berjam-jam mendaki, mereka tiba di puncak yang indah dengan pemandangan yang luar biasa. Sang anak kagum dan berkata, “Ayah, tempat ini luar biasa! Terima kasih karena Ayah tahu yang terbaik!”
Renungan: Allah yang Setia dan Janji-Nya yang Digenapi, Kejadian 21:1-7
Lalu sang ayah berkata, “Nak, tadi kamu ragu karena tidak tahu apa yang Ayah rencanakan. Tapi kamu tetap mengikuti Ayah. Begitulah cara kita percaya kepada Tuhan. Kadang kita tidak mengerti apa yang Dia lakukan, tapi jika kita tetap taat, kita akan melihat betapa indahnya rencana-Nya.”
Seperti anak itu, Abraham juga tidak mengerti mengapa Tuhan meminta sesuatu yang begitu sulit. Tetapi ia tetap taat, dan akhirnya Tuhan menunjukkan rencana-Nya yang luar biasa.
Kisah Abraham yang diperintahkan untuk mempersembahkan Ishak adalah salah satu pengujian iman terbesar yang pernah dicatat dalam Kitab Suci. Ini bukan sekadar ujian ketaatan, tetapi juga sebuah pembuktian sejauh mana kasih dan iman Abraham kepada Allah.
Allah meminta Abraham untuk mempersembahkan Ishak, anak yang sangat dikasihinya. Ini adalah ujian yang datang setelah banyak kesulitan yang sebelumnya ia hadapi
Kita belajar bahwa setiap ujian dari Allah bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk membangun iman kita. Seperti halnya seorang murid yang naik tingkat dalam pendidikan, Allah mengizinkan ujian agar kita semakin matang dalam iman.
Ketika Allah memanggil Abraham, ia segera menjawab, “Ya Tuhan.” Tanpa ragu, keesokan paginya ia berangkat untuk melaksanakan perintah Allah. Perjalanan tiga hari ke Gunung Moria memberi kesempatan bagi Abraham untuk berubah pikiran, tetapi ia tetap teguh.
Baca Juga: Renungan: Keselamatan Lot dan Kehancuran Sodom, Kejadian 10:1-3
Di saat terakhir, ketika Abraham hendak mengorbankan Ishak, Allah menghentikannya dan menyediakan seekor domba sebagai pengganti (Kejadian 22:11-14). Ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah bermaksud mencelakai kita, melainkan ingin menunjukkan bahwa Ia adalah penyedia (Yehovah Jireh).
Ujian Abraham mengajarkan pada kita bahwa iman sejati adalah ketaatan tanpa syarat.
Dalam kehidupan kita, kita mungkin tidak diminta untuk mengorbankan sesuatu sebesar Ishak, tetapi kita sering kali diuji dalam hal kepercayaan, pengorbanan, dan kesabaran.
Hari ini, marilah kita belajar dari Abraham. Jika kita sungguh mengasihi Tuhan, apakah kita siap untuk taat sepenuhnya? Sebab, di balik setiap ujian, selalu ada berkat yang lebih besar menanti kita. (*/Rizky)













