EKSPOSTIMES.COM- Sebuah momen haru mewarnai sidang lanjutan kasus hukum yang menjerat Toko Mama Khas Banjar, Rabu (14/5/2025), ketika Menteri UMKM Maman Abdurrahman tak kuasa membendung emosi di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Banjarbaru. Suara sang menteri bergetar, matanya berkaca-kaca, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kriminalisasi yang dialami pelaku usaha mikro seperti Firli Norachim.
“Kasus seperti ini sangat bisa diselesaikan di luar pengadilan. Ini seharusnya tak perlu sejauh ini,” ujar Maman dengan nada lirih namun tegas.
Baca Juga: Kemensos Gerakkan 20 Juta Warga Dukung Koperasi Desa Merah Putih, UMKM Lokal Siap Suplai Produk
Toko Mama Khas Banjar, dikenal luas sebagai pusat oleh-oleh khas Kalimantan Selatan, kini terancam gulung tikar akibat perkara hukum yang bermula dari laporan konsumen soal label kedaluwarsa produk. Dari temuan Ditkrimsus Polda Kalsel, 35 item disita sebagai barang bukti. Tak berselang lama, Firli ditahan dan operasional toko resmi berhenti sejak 1 Mei 2025.
Pukulan berat, bukan hanya bagi pemilik, tapi juga puluhan karyawan yang menggantungkan hidup di sana.
Menteri Maman menegaskan, kehadirannya bukan untuk membela individu, melainkan untuk mewakili suara ribuan pelaku UMKM Indonesia yang kerap tersandung regulasi tanpa pendampingan memadai.
“Kita tidak sedang menyalahkan siapa pun. Ini soal keberpihakan sistem terhadap mereka yang lemah,” tandasnya.
Momen ini menambah sorotan tajam terhadap bagaimana hukum memperlakukan sektor UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Maman menyuarakan perlunya reformasi perlindungan hukum bagi pelaku UMKM, agar mereka tidak terus menjadi pihak paling rentan saat menghadapi prosedur hukum.
Baca Juga: Menteri UMKM Apresiasi Kesempatan Baru Bagi Pelaku UMKM Kelola Bahan Tambang Melalui UU Minerba
Persidangan masih akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan, namun air mata sang menteri sudah membuka percakapan baru: seberapa siap sistem hukum Indonesia dalam mengayomi dan melindungi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di tengah era yang menuntut kepatuhan total?
“Saya hadir membawa semangat. Agar tidak ada lagi Firli-Firli lain yang jatuh bukan karena niat jahat, tapi karena kurangnya bimbingan,” pungkas Maman, meninggalkan ruang sidang dengan mata sembab. (tim)












