Ekonomi & Bisnis

Rupiah Tertekan, Dekati Rekor Lemah di Tengah Bayang-Bayang Tarif Impor AS

×

Rupiah Tertekan, Dekati Rekor Lemah di Tengah Bayang-Bayang Tarif Impor AS

Sebarkan artikel ini
Rupiah melemah mendekati rekor terendah di tengah penguatan dolar AS dan kebijakan tarif impor Amerika Serikat.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah, mendekati rekor terendah sejak krisis 1998, dipicu penguatan indeks dolar dan kebijakan tarif impor AS. Foto ilustrasi

EKSPOSTIMES.COM- Rupiah kembali terjebak dalam tekanan jual di pasar keuangan global. Dibuka melemah 0,18% ke level Rp16.610 per dolar AS, mata uang Garuda semakin mendekati titik terlemah sejak krisis moneter 1998 yang sempat menyentuh Rp16.642 per dolar AS awal pekan ini.

Pada pukul 09.10 WIB, rupiah sedikit mengurangi pelemahan dan bergerak di kisaran Rp16.598 per dolar AS. Namun, tekanan terhadap rupiah masih terasa seiring penguatan indeks dolar AS yang terus berlanjut sejak kemarin.

Tak hanya rupiah, dolar Taiwan juga tertekan, sementara mayoritas mata uang Asia justru menguat, dipimpin yen Jepang yang naik 0,28%.

Baca Juga: IHSG Melejit di Pembukaan, Saham Big Banks Jadi Motor Utama

Ketidakpastian global tak hanya menekan rupiah, tetapi juga menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah. Setelah sempat melonjak hampir 4% kemarin akibat masuknya kembali investor asing yang memburu dividen emiten besar, IHSG pagi ini terkoreksi 0,15%.

Di pasar obligasi, harga Surat Utang Negara (SUN) bergerak beragam. Yield SUN tenor 2 tahun naik 2,1 basis poin ke 6,758%, sementara tenor 5 tahun naik 1,7 basis poin. Namun, SUN acuan 10 tahun justru turun tipis 0,4 basis poin ke 7,122%, dan tenor 11 tahun melemah lebih dalam hingga 3,8 basis poin menjadi 7,210%.

Pasar kembali dibuat waspada oleh kebijakan proteksionisme Amerika Serikat. Presiden Donald Trump mengumumkan tarif 25% untuk semua mobil impor yang tidak diproduksi di AS, berlaku mulai 2 April.

Baca Juga: Rupiah Berfluktuasi, Menko Airlangga Yakinkan Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Langkah ini memicu ketegangan di pasar, meski Trump mengisyaratkan bahwa tarif tambahan terhadap negara-negara lain akan lebih rendah dari ekspektasi.

Dampaknya langsung terasa di pasar valuta asing. Indeks dolar AS ditutup menguat 0,35% dan pagi ini kembali naik ke kisaran 104,63. Sentimen risk-off semakin mendominasi, membuat aset di pasar negara berkembang, termasuk rupiah, rentan tertekan.

Secara teknikal, rupiah telah menembus level support Rp16.600 per dolar AS. Jika tekanan berlanjut, mata uang ini berisiko melemah lebih jauh menuju Rp16.650 per dolar AS, dengan level psikologis Rp16.700 sebagai batas bawah berikutnya.

Baca Juga: Rupiah Tersungkur ke Rp16.620/US$, Terlemah Sejak Krisis 1998

Namun, jika terjadi rebound, rupiah perlu melewati level resistance di Rp16.550, sebelum menuju target penguatan di Rp16.480 per dolar AS.

Dengan lanskap global yang masih bergejolak, investor perlu mencermati dinamika pasar, terutama menjelang implementasi kebijakan tarif impor AS awal bulan depan. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d