EKSPOSTIMES.COM– Duka mendalam menyelimuti warga Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara. Seorang gadis remaja berusia 14 tahun ditemukan tewas gantung diri di rumahnya, Jumat (22/8/2025). Ironisnya, siswi SMP itu mengakhiri hidup setelah mengalami depresi akibat hamil, hasil pemerkosaan yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya: abang kandung dan sepupunya sendiri.
Kejadian memilukan ini sontak mengguncang publik. Kapolres Labusel, AKBP Aditya SP Sembiring, memastikan kedua pelaku, yakni N (20) dan KHM (25), telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolres Labusel.
“Kedua tersangka sudah dilakukan penahanan. Saudara korban yang menghamilinya, sedangkan abang kandungnya melakukan pelecehan terhadap korban,” ungkap Aditya, Kamis (28/8/2025).
Kedua pelaku dijerat dengan Pasal 81 ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. Hukuman yang berat, namun tak sebanding dengan luka batin dan hilangnya nyawa seorang anak belia yang semestinya masih merajut mimpi di bangku sekolah.
Hasil otopsi memperkuat dugaan bahwa korban meninggal akibat bunuh diri. Kasatreskrim Polres Labusel, AKP Endang R Ginting, menjelaskan bahwa korban tinggal serumah dengan adik dan abangnya, sementara orang tua kandungnya sudah berpisah dan memiliki keluarga baru.
“Sejauh ini, korban kurang mendapat kasih sayang. Depresi karena hamil, diduga itulah yang mendorong korban nekat bunuh diri,” kata Endang.
Fakta memilukan terkuak saat jasad korban yang sempat dimakamkan pada Sabtu (23/8) kemudian diekshumasi, Minggu (24/8/2025). Dari hasil ekshumasi, terlihat jelas perut korban membesar, menandakan adanya janin di dalam kandungan. Namun, pada tubuh korban tidak ditemukan tanda kekerasan fisik.
Peristiwa ini membuka luka besar tentang rentannya anak-anak perempuan di tengah keluarga yang retak dan minim perhatian. Korban yang semestinya mendapat perlindungan, justru menjadi korban kebiadaban orang-orang terdekat.
Tragedi ini sekaligus menjadi alarm bagi masyarakat dan pemerintah daerah bahwa kasus kekerasan seksual terhadap anak bukan lagi isu pinggiran, melainkan bom waktu yang mengancam generasi muda.
Bunuh diri yang dilakukan korban adalah teriakan terakhir yang tak sempat didengar. Depresi yang ia alami seharusnya bisa ditangani bila ada uluran tangan, perhatian, dan perlindungan.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami depresi, jangan memendam sendiri. Jangan menyerah. Bantuan tersedia, salah satunya lewat layanan konseling kesehatan jiwa di Into the Light Indonesia: https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/layanan-konseling-psikolog-psikiater/. Anda tidak sendiri. (Kom/salmon)












