Hukum & Kriminal

Telan Rp400 Juta Duit Negara, PAMSIMAS di Wasian Kakas Barat Terbengkalai, Proyek ‘Terbaik’ Sulut Cuma Tinggalkan Pipa Kosong

×

Telan Rp400 Juta Duit Negara, PAMSIMAS di Wasian Kakas Barat Terbengkalai, Proyek ‘Terbaik’ Sulut Cuma Tinggalkan Pipa Kosong

Sebarkan artikel ini
PROYEK Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Desa Wasian berbanderol Rp400 juta diduga kuat sarat masalah. Meski menghabiskan dana besar, hasilnya nihil, air tak bisa dimanfaatkan, fasilitas tidak berfungsi.

EKSPOSTIMES.COM- Proyek Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Desa Wasian, Kecamatan Kakas Barat, Kabupaten Minahasa, kini berubah status, dari proyek “terbaik se-Sulut” menjadi simbol kegagalan dan dugaan pemborosan anggaran negara.

Menghabiskan dana hingga Rp400 juta, program yang seharusnya menyelamatkan warga dari krisis air justru menyisakan pipa-pipa mati, bak penampung berlumut, dan air keruh tak layak pakai.

“Yang kami dapat cuma janji manis dan instalasi kosong. Keran tetap kering, harapan kami dikubur!” keluh warga Wasian, Senin (23/6).

Menurut pengurus PAMSIMAS desa, pada awalnya proyek ini dipuji dan dielu-elukan. Didampingi tenaga ahli dari DPMU dan Fasilitator PAMSIMAS Kabupaten Minahasa, proyek ini bahkan menyabet penghargaan sebagai pembangunan fisik terbaik di Sulawesi Utara.

Namun sayangnya, setelah fisik selesai dibangun dan air diuji coba secara gratis selama empat bulan, tak satu pun warga bersedia jadi pelanggan dengan iuran Rp15.000/bulan. Alhasil, uji coba dihentikan karena tidak ada dana operasional dan biaya listrik.

“Kami stop operasional karena tak ada warga yang daftar. Biaya listrik dan perawatan tidak ditanggung PAMSIMAS atau desa,” aku pengurus proyek bernama Steven ini.

Dua bulan setelah nonaktif, dilakukan uji laboratorium ulang, hasilnya mengejutkan: air keruh, bau, dan tidak layak konsumsi. Ironisnya, fasilitas air bersih itu kini hanya dimanfaatkan sebagian pedagang untuk mencuci daging di pinggir jalan.

Pengurus PAMSIMAS mengklaim telah berupaya memperbaiki kualitas air. Mulai dari membuat saringan di atas bak penampung, pengeboran ulang dengan dana swadaya, hingga kerja sama dengan mahasiswa KKN Unsrat.

Namun semua mentok. Bahkan saat diajukan ke dinas terkait, proyek ini tidak mendapat respons.

“Air di kedalaman lebih dari 30 meter di wilayah itu memang sudah tercemar,” terang pengurus.

Dana Rp400 juta diklaim terbagi antara cash dan swadaya masyarakat, seperti kerja bakti, sumbangan bambu, dan upah harian yang turut dimasukkan ke dalam laporan anggaran.

Namun masyarakat mempertanyakan: Kalau anggaran sebesar itu sudah dipakai, kenapa airnya tidak bisa diminum?

“Proyek ini terkesan hanya formalitas. Kami curiga banyak kejanggalan,” ujar warga lainnya, sembari menyebut jika air pada proyek yang konon katanya terbaik se-Sulut ini memang sudah berbau sejak pertama disalurkan ke masyarakat, untuk itu tidak ada yang berani pakai apalagi sampai menghabiskan uang walau hanya Rp15.000/bulan.

Menurut pengurus, mereka hanya mengawasi proyek. Pengadaan bahan dan pengerjaan dilakukan oleh pihak ketiga sesuai arahan PAMSIMAS Kabupaten.

Anggaran juga disebut digunakan untuk sosialisasi di sekolah dasar, rumah Hukum Tua, dan Puskesmas. Bahkan untuk pembuatan wastafel serta promosi pola hidup bersih sehat (PHBS). Sayangnya, air bersih yang dijanjikan tak pernah hadir.

Kekecewaan warga kian memuncak. Mereka meminta aparat penegak hukum, termasuk Kejaksaan dan Kepolisian, segera mengaudit proyek PAMSIMAS Wasian. Mulai dari aliran dana, keterlibatan pihak ketiga, hingga peran fasilitator kabupaten.

“Kami tak ingin kasus ini jadi preseden buruk. Uang negara harus kembali, pelakunya harus dihukum!” tegas masyarakat Wasian.

Saat dikonfirmasi soal dana desa Rp29 juta yang dikucurkan pada proyek PAMSIMAS di tahun 2019, pengurus mengakuinya.

“Iya, itu memang dana awal pengerjaan,” ucapnya.

Kini, PAMSIMAS Wasian menjadi saksi bisu bagaimana program dengan niat baik bisa gagal total karena lemahnya pengawasan dan diduga sarat penyimpangan. Keran-keran mati itu bukan sekadar pipa kosong, tapi simbol pengkhianatan terhadap amanah rakyat. (tommy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d